Hamil Berpuasa: Istirahat Buat Ibu dan Sehat Buat Janin

 

Apa yang akan anda lakukan jika anda sedang hamil atau menyusui sedangkan anda pengen puasa? Pertanyaan yang bagus, ….

Sesungguhnya puasa bisa menyebabkan terjadi perubahan-perubahan fisiologis dalam tubuh, yang akhirnya mempengaruhi janin dalam rahim atau bayi yang menyusui. Dan semakin begitu penting pertanyaan ini, manakala orang yang hamil atau menyusui itu sedang mengalami sakit tertentu atau ia mengalami kendala kesehatan yang bisa berpengaruh kepadanya jika ia berpuasa. Dan memberikan perlindungan terhadap ibu hamil atau menyusui, kemudian janin atau bayi adalah sudah benar-benar diakui Islam, ia mendapatkan dispensasi untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, untuk kemudian men-qadha (mengganti)-nya pada bulan-bulan depannya ketika sudah tidak mengandung atau menyusui.

Berdasarkan hal di atas, mesti ada pembeda yang jelas antara kehamilan normal-sehat dan yang tidak sehat atau tidak normal, sehingga kita bisa mengetahui apa yang menjadi kewajibannya dan apa yang tidak menjadi wajib pada keadaan-keadaan tersebut ketika hendak berpuasa. Oleh karena itu, mesti memahami pengaruh kehamilan terhadap kerja organ tubuh secara fisioligis, dan di masa hamil dimana terjadi perubahan fungsi tubuh. Perubahan-perubahan tersebut mencakup seluruh organ dan fungsi tubuhnya. Hal ini memiliki tujuan untuk memberikan jaminan keamanan yang cukup bagi pembentukan dan perkembangan janin sehingga melebihi dari apa yang ia butuhkan sendiri.

Dispensasi Untuk Tidak Berpuasa

Dr. Ahmad Al-Tajiy, guru besar penyakit ibu dan reproduksi mengatakan bahwa selama hamil dan menyusui para wanita hamil dibenarkan mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa. Akan tetapi secara ilmiah, tidak ada bahayanya jika ia berpuasa, selama kehamilannya adalah kehamilan yang sehat-normal, tidak mengalami masalah atau pun kelemahan-kelemahan tertentu.

Pengetahuan ini dibangun di atas penelitian yang sangat detail, dimana ia menegaskan “Puasa tidak menyebabkan dampak negatif terhadap ibu dan janin” dan “Puasa justeru memberikan dampak keteduhan jiwa bagi sang ibu”, dan inilah yang banyak dibutuhkan oleh seorang ibu yang sedang mengandung. Ini jika kehamilannya adalah normal dan sehat.

Adapun jika kehamilannya tidak sehat atau tidak normal, maka keadaannya berbeda. Kami menganjurkan para perempuan yang hamil untuk tidak berpuasa sesuai keadaannya masing-masing. Ketika terjadi “kontraksi peringatan” misalnya, yaitu turunnya darah bersama bayi, dan darah ini bukan darah haidh akan tetapi salah satu jenis dari darah istihadhah. Pada saat ini ia bisa menjalankan puasa, shalat, selama tidak bertentangan dengan sistem pengobatannya. Adapun jika metode pengobatannya berkala setiap 6 atau 7 jam sekali, maka ia mesti tidak puasa.

Juga sakit diabets dan sedang hamil pada keadaan kecil ia mampu untuk berpuasa. Adapun jika dampak puasa terhadap keadaan kesehatannya atau berbentrokan dengan sistem pengobatannya, maka ada dispensasi tidak berpuasa yang ia mesti ambil.

Pada saat nifas, maka para nufasa (ibu-ibu yang sedang nifas -pent), maka ia tidak terkena kewajiban puasa atau shalat. Fatwa-fatwa syar’iyah berbeda pendapat tentang batasan nifas, apakah selama waktu 40 hari ataukah selesai dengan terputusnya darah nifas yang keluar?!!

Yang lebih rajih (lebih dekat dengan kebenaran -pent) adalah nifas selesai dengan terputusnya darah yang keluar atau menyempurnakan hitungan waktu hifas. Sebagaimana masa menyusui, maka ia pun boleh mengambil dispensasi tidak berpuasa. Akan tetapi jika ia mampu berpuasa tanpa menyisakan dampak negatif bagi sang bayi, maka ia bisa meneruskan puasanya. Demikian juga sebaliknya.

Ibu yang hamil atau menyusui jika memutuskan untuk berpuasa maka ia harus memastikan kandungan nutrisinya cukup dan sahur pada saat-saat akhir waktu, dan banyak minum minuman buah atau juice selepas maghrib. Dan banyak makan sayuran, khususnya sebelum sahur, sebab sayuran dan buah-buahan kaya akan kandungan yang dibutuhkan tubuh, dan hindarilah minuman yang jelek, seperti minuman yang mengandung gas karbon (soft drink -pent), banyak mengkonsumsi suplemen vitamin dan zat besi.

Masalah Kesehatan

Dr. Usamah Al-Manuvi, guru besar penyakit wanita dan reproduksi mengatakan bahwa wanita ketika mengalami masa hamil terkadang mengalami masalah kesehatan, baik memiliki kaitan langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis untuk menghadapi keadaan sakit ini, dan untuk sebuah hikmah rabbaniyah kita mendapati sampai keadaan ini keadaannya tetap kokoh demi kebutuhan-kebutuhan janin karena adanya sisa nutrisi sebagaimana ketentuan Allah ta’alaa. dan tidak mempengaruhi perkembangannya ketika terjadi keadaan seperti munculnya penyakit bersamaan dengan masa hamil.

Dr. Manuvi menambahkan bahwa janin sangat bergantung kepada glukosa alami di dalam darah ibu lebih kecil daripada kandungan alami sebelum masa hamil. Hal ini kembali pada pengkonsumsiannya melalui janin. Jika penguraian glukosa dari ibu ketika hamil menjadi lebih sulit, padahal ia mampu untuk memproduksi tenaga dari sumbernya yang lain, yaitu melalui lemak dalam tubuh secara alami. Akan tetapi proses ini memiliki konsekuensi munculnya apa yang disebut dengan kitonat, dan ini berbahaya bagi kandungannya dalam darah.

Dan sudah diketahui umum bahwa ketika puasa, ibu hamil mendapatkan gula untuk masa yang lama, jika ia berpuasa pada musim panas, sebab puasa pada saat itu mencapai 15 jam sehari (hal ini tidak terjadi di negara Indonesia -pent). Hal ini menambah kemungkinan bahaya tidak adanya penambahan gula untuk memproduksi kemampuan yang diinginkan dan berpindah untuk mengambil lemak dan munculnya kitonat dan kandungannya dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan bahaya bagi ibu dan lebih besar lagi bagi janin di dalam rahim. Khususnya pada bulan-bulan terakhir dari masa kehamilan, dimana janin semakin banyak kebutuhannnya. Adapun jika sang ibu terus-menerus berpuasa, maka ia mesti mengakhirkan sahurnya dan lebih banyak mengkonsumsi makanan, gula dan makanan lain yang mudah diserap oleh tubuh, serta menghindari banyak bergerak selama berpuasa, khususnya saat-saat sebelum berbuka puasa. Demikian juga, ketika berbuka, sangat dianjurkan berbuka dengan makanan mengandung gula dan makanan yang mudah dicerna, diserap tubuh (lihat mukjizat kurma di http://www.alsofwah.or.id).

Olah Raga Berjalan

Setelah berpuasa pada waktu yang panjang, seorang ibu hamil disarankan untuk segera makan berat ketika berbuka, tentu setelah sebelumnya memakan makanan yang manis dan mudah dicerna semacam kurma. Hal ini karena seorang yang hamil lebih banyak mengalami kekurangan energi dibandingkan perempuan yang tidak hamil. Oleh karena itu, perempuan yang hamil ketika berpuasa disarankan untuk berbuka dengan sedikit-sedikit dan dalam waktu yang lama (dalam bahasa Jawa disebut dengan”ngemil”, dan yang dimakannya disebut cemilan -pent). Dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi goreng-gorengan, sebab minyaknya sukar untuk dicerna dan diserap. Bisa juga mengkonsumsi tablet yang mengandung enzim yang membantu penyerapan makanan sebelum makan secara langsung. Juga harus meminum susu sebab susu mengandung kalsium. Juga biasakan olah raga berjalan ketika pagi hari atau setelah makan buka puasa. Disarankan kepada para ibu hamil agar berbuka (tidak berpuasa) pada bulan-bulan terakhir masa kehamilannya, khususnya jika Ramadhan bertepatan dengan musim panas, sehingga ia tidak kehilangan cadangan air dalam tubuh. Hal ini bagi kehamilan normal dan sehat.

Adapun jika kehamilannya tidak normal atau tidak sehat, maka Dr. Usamah Al-Manuvi menyarankan bahwa sang ibu diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada 3 bulan pertama masa kehamilan. Hal ini karena keadaannya yang menyebabkan tubuh kekurangan banyak cairan dan sodium, apalagi jika sampai kehilangan semangat (tidak bergairah, lesu, dll). Maka pada keadaan ini sang ibu hamil mengalami “kekeringan” dan kekurangan kadar gula. Oleh karena itu ia harus berbuka puasa dan banyak minum minuman buah dan makana manis. Kondisi-kondisi itu adalah:

1. Pendarahan, baik pada bulan-bulan pertama ataupun akhir kehamilan;
2. Masalah kesehatan yang dialami si ibu, seperti diabets;
3. Naiknya tensi darah, dan dehidrasi

Fauziyah Al-Muhammad

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s