Arsip

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 2) – Periwayatan Keledai !!

Tidak diragukan lagi bahwa agama syi’ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi’ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.
Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi’ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.
Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :

Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan : Baca lebih lanjut

AJARAN-AJARAN MADZHAB SYAFI’I YANG DILANGGAR OLEH SEBAGIAN PENGIKUTNYA 5 – KEYAKINAN BAHWA ALLAH DI ATAS LANGIT

Diantara aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –yang juga merupakan aqidah para as-Salaf as-Sholeh- bahwasanya Allah berada di atas langit.

Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i tentang Allah di atas telah diakui oleh para ulama Asy-Syafi’iyah diantaranya Imam Al-Baihaqi, Al-Imam Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji rahimahumullah.
Baca lebih lanjut

SIFAT-SIFAT MUKMIN SEJATI DALAM AL-QUR`AN

Keimanan merupakan kunci kebaikan dan keberuntungan seseorang di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla sering sekali menyebutkan kata ‘iman’ ini dalam al-Qur’ân, baik dalam konteks perintah, larangan, anjuran, pujian dan lain sebagainya. Jika penyebutan lafazh ‘iman’ itu dalam konteks perintah, larangan atau penetapan hukum di dunia, maka itu berarti, ucapan itu diarahkan kepada seluruh kaum Mukminin, baik yang imannya sempurna ataupun kurang . Sedangkan, jika penyebutan kata ‘iman’ itu dalam konteks pujian kepada orang-orangnya dan penjelasan balasannya, maka itu berarti, ucapan itu diarahkan untuk orang-orang yang imannya sempurna. Kelompok yang kedua inilah yang hendak dijelaskan di sini.
Baca lebih lanjut

JANGAN TERBURU-BURU DAN JANGAN MENUNDA-NUNDA

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar (kita) memastikan kebenaran sesuatu dan tidak terburu-buru pada segala hal yang dikhawatirkan dampaknya. Dan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan (kita) untuk bergegas melakukan segala kebaikan yang dikhawatirkan akan luput

Kaedah ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an. Diantara contoh terapan untuk penggalan kaedah yang pertama yaitu :
Baca lebih lanjut

ALQUR’AN MEMBERIKAN PENGARAHAN AGAR TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN YANG MUBAH

Al-Qur’ân Memberikan Pengarahan Agar Tidak Melakukan Perbuatan Yang Mubah (Bersifat Boleh) Apabila (Hal Tersebut) Dapat Mengantarkan Kepada Perkara Haram Atau Meninggalkan Hal Yang Wajib

Kaidah ini telah tercantum dalam banyak ayat dalam al-Qur’ân, dan termasuk dalam kandungan kaidah al-wasâil lahâ ahkâmul maqâshid (sebuah perbuatan dihukumi berbeda tergantung tujuannya).

Yang termasuk dalam kaidah ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah engkau memaki sesembahan selain Allah yang mereka sembah karena nanti mereka akan mencela Allah dengan melampaui batas tanpa dasar ilmu pengetahuan” [al-An'âm/6:108][1]

Juga firman-Nya :

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Dan janganlah mereka (kaum wanita) menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan [an-Nur/24:31][2]

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

Maka janganlah kalian (istri-istri Nabi) tunduk (melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang di dalam hatinya ada penyakit [al-Ahzâb/33:32]

Dan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Wahai orang-orang yang beriman apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu mengingat Allâh dan tinggalkanlah perdagangan [al-Jumu'ah/62:9]

Masih banyak ayat lain yang menunjukkan kaedah yang agung ini. Maka, (hukum) perkara-perkara mubah itu tergantung pada tujuannya. Apabila menjadi perantara yang mengantarkan pada hal wajib ataupun sunnah, maka perbuatan tersebut (berubah hukumnya) menjadi hal yang diperintahkan. (Sebaliknya) jika perbuatan itu menjadi jembatan menuju perkara haram atau meninggalkan kewajiban, maka hal tersebut diharamkan dan terlarang (untuk dilakukan). Karena amal-amal perbuatan itu hanya tergantung pada niat si pelaku, di awal dan akhirnya. Wallâhul muwaffiq.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di, halaman. 131-132)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Allâh Azza wa Jalla melarang perbuatan mencela terhadap sesembahan kaum kafir, meskipun merupakan sesuatu yang mengandung kemaslahatan, karena dapat berdampak munculnya celaan terhadap Allâh dari mereka (kaum kafir) sebagai tindakan balasan. Dan celaan yang dialamtkan kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk tindakan yang sangat buruk.
[2]. Pada asalnya, menghentakkan kaki ke tanah bagi seorang wanita diperbolehkan. Akan tetapi, bila menimbulkan mafsadah (bahaya) berupa isyarat yang berisi pemberitahuan apa yang disembunyikan oleh wanita dalam kakinya, maka hukum perbuatan ini dilarang. (Penjelasan Syaikh Khâlid bin ‘Abdullâah al-Muslih dalam syarahnya)

ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA JADIKAN SEBAB/PRANTARA SEBAGAI KABAR GEMBIRA

جَعَلَ اللهُ الأَسْبَابَ لِلْمَطَالِبِ الْعَالِيَةِ مُبَشِّرَاتٍ لِتَطْمِيْنِ الْقُلُوْبِ وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ

Allâh menjadikan prantara bagi semua tujuan yang tinggi sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) agar hati menjadi tenang dan iman bertambah

Allâh Azza wa Jalla Mahakuasa untuk mewujudkan semua tujuan dan maksud yang diinginkan oleh para hamba-Nya tanpa melalui sebab atau prantara. Namun Allâh Azza wa Jalla sengaja menjadikan dan menetapkan prantara atau sebab bagi sebuah tujuan agar menjadi mubassyirat (pembawa kabar gembira), sehingga dengan demikian hati akan menjadi tenang dan keimanan akan bertambah.
Baca lebih lanjut

AL-GHANIY (MAHA KAYA)

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Al-Ghaniy merupakan salah satu nama Allah Azza wa Jalla yang sangat indah. Keindahannya terletak pada nama dan makna-Nya. Nama ini, sebagaimana nama-nama Allah Azza wa Jalla lainnya, juga menunjukkan sifat kesempurnaan bagi Allah Azza wa Jalla , yaitu Kesempurnaan yang tidak mengandung unsur kelemahan sedikitpun ditinjau dari semua sudutnya.

Para ulama yang menghimpun nama-nama Allah Azza wa Jalla , mencantumkan nama ini di dalam kitab mereka.[1]
Baca lebih lanjut

AL-‘AFUW, MAHA PEMAAF

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

MAKNA AL-‘AFUW SECARA BAHASA
Ibnu Fâris rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah meninggalkan sesuatu.[1]

Ibnul Atsîr rahimahullah berkata: “Nama Allah “al-‘Afuw” adalah wazan fa’ûl dari kata al-‘afwu (memaafkan) yang berarti memaafkan perbuatan dosa dan tidak menghukumnya, asal maknanya: menghapus dan menghilangkan.[2]

Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata: “al-‘Afwu adalah permaafan dan pengampunan Allah k atas (dosa-dosa) makhluk-Nya, serta tidak memberikan siksaan kepada orang yang pantas (mendapatkannya).[3]

PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH AL-‘AFUW
Al-‘Afuw adalah zat yang maha menghapuskan dosa-dosa dan memaafkan perbuatan-perbuatan maksiat.[4]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla :

إنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun [al-Hajj/22:60]

Beliau berkata: “Artinya: Dia maha memaafkan orang-orang yang berbuat dosa dengan tidak menyegerakan sikasaan bagi mereka, serta mengampuni dosa-dosa mereka. Maka Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan bekas-bekasnya dari diri mereka. Inilah sifat Allah Azza wa Jalla yang tetap dan terus ada pada zat-Nya (yang Maha Mulia), dan inilah perlakuan-Nya kepada hamba-hamba-Nya di setiap waktu, (yaitu) dengan permaafan dan pengampunan…”[5] .

Makna inilah yang dimaksud dalam doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dibaca pada malam lailatul qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku [6].[7]

Dalam beberapa ayat al-Qur’ân Allah Azza wa Jalla menggandengkan nama ini dengan nama-Nya yang lain yaitu “al-Ghafûr” (Maha Pengampun), seperti dalam ayat di atas, demikian pula dalam surat an-Nisâ':43 dan 99. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكَانَ الله ُعَفُوًّا غَفُوْرًا

Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun [an-Nisâ'/4:99]

Kedua nama Allah Azza wa Jalla yang Maha Indah ini memang memiliki makna yang hampir sama, meskipun nama Allah ‘al-Afuw memiliki makna yang lebih mendalam. Karena “pengampunan” mengisyaratkan arti as-sitru (menutupi), sedangkan “pemaafan” mengisyaratkan arti al-mahwu (menghapuskan) yang artinya lebih mendalam dalam penghapusan dosa. Meskipun demikian, kedua nama Allah Azza wa Jalla ini jika disebutkan sendirian maknanya mencakup keseluruhan arti tersebut.[8]

Sifat “memaafkan” dan “mengampuni” ini adalah sifat-sifat yang tetap dan terus-menerus ada pada zat Allah yang Maha Mulia. Dan pengaruh baik sifat-sifat ini senantiasa meliputi semua makhluk-Nya di siang dan malam hari. Karena sifat “memaafkan” dan “mengampuni” (yang dimiliki)-Nya meliputi semua makhluk, dosa dan perbuatan maksiat.

Padahal, mestinya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia menjadikan mereka ditimpa berbagai macam siksaan, akan tetapi pemaafan dan pengampunan-Nya menghalangi turunnya siksaan tersebut. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. [Fâthir/35:45]

Inilah kesempurnaan permaafan-Nya dan kalau bukan karena itu niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun.[9]

Senada dengan ayat di atas, dalam sebuah hadits yang shahîh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada satupun yang lebih bersabar menghadapi gangguan (celaan) yang didengarnya melebihi Allah Azza wa Jalla , sungguh orang-orang (kafir) menyekutukan-Nya dan mengatakan (bahwa) Dia mempunyai anak, (tapi bersamaan dengan itu) Dia tetap memaafkan (menangguhkan siksaan) dan memberi rezki bagi mereka”[10] .

PEMBAGIAN SIFAT AL-AFUW (MEMAAFKAN) DARI ALLAH AZZA WA JALLA.
Sifat al-afw (memaafkan) ini ada dua macam:

1. Pertama: Permaafan Allah Azza wa Jalla yang bersifat umum bagi semua orang yang berbuat maksiat, dari kalangan orang-orang kafir maupun yang selain mereka. Yaitu dengan tidak menimpakan siksaan yang telah ada sebab-sebabnya, yang seharusnya menjadikan mereka terhalangi dari kenikmatan duniawi yang mereka rasakan, padahal mereka menentang-Nya dengan mencela-Nya (menisbatkan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya), menyekutukan-Nya dan melakukan berbagai macam penyimpangan lainnya. Meskipun demikian, Allah Azza wa Jalla tetap memaafkan (menangguhkan siksaan-Nya), memberi rezki dan menganugerahkan berbagai macam kenikmatan kepada mereka, yang lahir maupun batin.

2. Kedua: Permaafan dan pengampunan-Nya yang bersifat khusus bagi orang-orang yang bertobat, meminta ampun, berdoa dan menghambakan diri kepada-Nya, demikian pula bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat-Nya dengan musibah-musibah yang menimpa mereka. Maka, semua orang yang bertobat kepada-Nya dengan tobat yang nashûh [11], Allah akan mengampuni dosa apapun yang dilakukannya, baik berupa kekafiran, kefasikan maupun kemaksiatan lainnya. Semua dosa tersebut termasuk dalam keumuman firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [az-Zumar/39:53][12]

PENGARUH POSITIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH “AL-AFUW”
Memahami nama Allah Azza wa Jalla yang Maha Agung ini merupakan pintu utama untuk mencapai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya, khususnya jika setelah memahaminya dengan baik, kita berusaha merealisasikan kandungan dan konsekuensi yang terkandung di dalamnya, yaitu melakukan istighfâr (meminta ampun kepada Allah Azza wa Jalla ) secara kontinyu, meminta permaafan, selalu bertobat, mengharapkan pengampunan dan tidak berputus asa (dari rahmat-Nya). Hal itu, karena Allah Azza wa Jalla Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun, sangat mudah bagi-Nya untuk mengampuni dosa (hamba-hamba-Nya) bagaimanapun besarnya dosa dan maksiat tersebut. Maka seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan yang agung selama dia selalu meminta permaafan dan mengharapkan pengampunan dari Allah. [13]

Renungkan makna yang agung ini dalam hadits qudsi berikut:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman: “Seorang hamba melakukan perbuatan dosa, kemudian dia berdoa: “Ya Allah ampunilah dosaku”. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai rabb yang (Maha) Mengampuni dan membalas perbuatan dosa”. (Maka Allah Azza wa Jalla pun mengampuni dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa: “Ya rabbku ampunilah dosaku”. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai rabb yang (Maha) Mengampuni dan membalas perbuatan dosa”. (Maka Allah Azza wa Jalla pun mengampuni dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa: “Ya Tuhanku ampunilah dosaku”. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai rabb yang (Maha) Mengampuni dan membalas perbuatan dosa, berbuatlah sesukamu wahai hamba-Ku, maka sungguh Aku telah mengampunimu” . Yaitu: “selama kamu terus bertobat, memohon dan kembali kepada-Ku”.[14]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. [an-Nisâ'/4:43]

Beliau berkata: “Artinya: Allah memiliki banyak pemaafan dan pengampunan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan memudahkan dan meringankan syariat-Nya bagi mereka, sehingga mudah bagi mereka untuk menunaikannya dan tidak menyusahkan.

DIANTARA BENTUK PEMAAFAN ALLAH AZZA WA JALLA
Di antara bentuk permaafan dan pengampunan-Nya adalah Rahmat-Nya bagi umat ini dengan mensyariatkan bersuci dengan tanah (debu) sebagai pengganti air ketika tidak mampu menggunakan air.

Dan di antara permaafan dan pengampunan-Nya adalah Dia membukakan pintu tobat dan kembali kepada-Nya bagi orang-orang yang berbuat dosa, bahkan dia menyeru mereka untuk bertobat dan menjanjikan pengampunan bagi dosa-dosa mereka.

Di antara permaafan dan pengampunan-Nya adalah bahwa seandainya seorang Mukmin datang menghadap-Nya di akhirat nanti dengan membawa dosa sepenuh bumi, tapi dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka Dia akan memberikan pada hamba-Nya itu pengampunan yang sepenuh bumi (pula) [16].[17]

Di antara bentuk permaafan-Nya adalah bahwa perbuatan baik dan amalan shaleh bisa menghapuskan perbuatan buruk dan dosa. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk [Hûd/11:114]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutkanlah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk tersebut. [18]

Demikian juga di antara bentuk permaafan-Nya adalah bahwa semua musibah yang menimpa pada diri seorang hamba, anak maupun hartanya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya, khususnya jika hamba itu mengharapkan pahala dari musibah tersebut dan bersikap bersabar serta ridha (dengan takdir Allah Azza wa Jalla terhadap dirinya).

Dan di antara bentuk permaafan-Nya yang agung adalah bahwa hamba-Nya yang selalu menentang perintah-Nya dengan melakukan berbagai macam maksiat dan dosa besar, tapi Dia selalu berlaku lembut dan memberikan maaf-Nya kepadanya, kemudian dia melapangkan dada hamba-Nya itu untuk bertobat kepada-Nya, dan Dia pun menerima taubatnya. Bahkan Allah Azza wa Jalla bergembira dengan taubat hamba-Nya, padahal Allah Azza wa Jalla Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tidak akan memberi manfaat bagi-Nya ketaatan orang-orang yang taat, sebagaimana tidak akan merugikan-Nya kemaksiatan orang-orang yang berbuat maksiat . [19]

PENUTUP
Sesungguhnya pintu-pintu permaafan dan pengampunan Allah Azza wa Jalla senantiasa terbuka lebar. Allah Azza wa Jalla senantiasa bersifat Maha Pemaaf dan Pengampun. Sungguh, Allah Azza wa Jalla telah menjanjikan pengampunan dan permaafan bagi orang-orang yang mengerjakan sebab-sebabnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar [Thâhâ/20:82][20]

Demikianlah, semoga Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita permaafan-Nya dan memuliakan kita dengan pengampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Mu’jamu maqâyîsil lughah 4/45
[2]. An-Nihâyah fî gharîbil hadîts wal atsar 3/524
[3]. Al-Qamûs al-Muhîth hlm. 1693
[4]. Kitab Fiqhul asmâ-il husna hlm. 142
[5]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 388
[6]. HR at-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Mâjah (no. 3850), dinyatakan shahîh oleh Syaikh al-Albâni.
[7]. Lihat kitab Faidhul Qadîr 2/239
[8]. Lihat kitab Fiqhul asmâ-il husnâ hlm. 142
[9]. Ibid hlm. 143
[10]. HSR al-Bukhâri no. 5748 dan Muslim 2804 dari Abu Mûsâ al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.
[11]. Artinya: tobat yang murni untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla semata-mata, yang mencakup semua dosa, yang tidak disertai keragu-raguan dan sikap bersikeras pada perbuatan dosa tersebut.
[12]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 143
[13]. Ibid hlm. 145
[14]. HSR al-Bukhâri no. 7068 dan Muslim no. 2758
[15]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 145
[16]. Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR Muslim no. 2687, at-Tirmidzi no. 3540 dll.
[17]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 103
[18]. HR at-Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albâni.
[19]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 144
[20]. Ibid hlm. 145

AR-RAQÎB, YANG MAHA MENGAWASI

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

PENETAPAN NAMA AR-RAQIB
Nama Allah k yang maha agung ini disebutkan dalam tiga ayat al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian [an-Nisâ'/4:1].

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

Dan adalah Allâh Maha Mengawasi segala sesuatu [al-Ahzâb/33:52]

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan akulah yang menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah Yang Maha Mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu [al-Mâidah/5:117].
Baca lebih lanjut