SHALAT DUA HARI RAYA

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Hukumnya
Shalat dua hari raya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya serta memerintahkan orang-orang mendatanginya.

Dari Ummu ‘Athiyah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang sedang dalam pingitan (untuk menghadiri shalat ‘Id).”[1]

Dari Hafshah binti Sirin, dia berkata, “Dahulu, ketika hari raya, kami pernah melarang gadis-gadis kami keluar. Kemudian datanglah seorang wanita yang singgah di istana Bani Khalaf.(*) Aku pun lantas mendatanginya. Dia bercerita bahwa suami saudarinya pernah ikut perang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua belas kali peperangan. Saudarinya juga pernah menyertainya berperang sebanyak enam kali peperangan. Dia berkata,”Kami mengurusi orang-orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang terluka.” Dia berkata lagi,”Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah salah seorang di antara kami tidak keluar jika tidak memiliki jilbab?” Beliau bersabda, “Hendaklah saudarinya memakaikan jilbab kepadanya. Kemudian hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan do’a orang-orang yang beriman.”[2]

B. Waktunya
Dari Yazid bin Khumair ar-Rahabi, dia berkata, “’Abdullah bin Busr, Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluar bersama orang-orang pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Kemudian dia mengingkari keterlambatan imam. Dia berkata, ‘Dahulu kami selesai pada saat seperti ini, yaitu ketika tasbih.’” [3]

C. Keluar ke Tanah Lapang
Dari beberapa hadits terdahulu, diketahui bahwa tempat shalat ‘Id adalah tanah lapang, bukan masjid. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke sana dan orang-orang setelah beliau pun melakukan hal yang sama.

Apakah terdapat adzan dan iqamat?
Dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhum, mereka berkata, “Tidak pernah terdapat adzan pada waktu (shalat) hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha.”[4]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, “Tidak ada adzan, iqamat, seruan tertentu atau apa saja untuk shalat ‘Idul Fithri, baik ketika imam keluar, ataupun setelah selesai. Pada hari tersebut tidak ada adzan dan iqamat.” [5]

D. Tata Cara Shalat ‘Id
Shalat ‘Id terdiri dari dua raka’at. Pada kedua raka’at tersebut terdapat dua belas takbir. Tujuh pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum memulai bacaan, dan lima pada raka’at kedua sebelum memulai bacaan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “Ketika melaksanakan dua shalat ‘Id, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at terakhir.”[6]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma: “Pada waktu shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir tujuh dan lima kali, selain dua takbir ruku’.”[7]

E. Surat Yang Dibaca
Dari an-Nu’man bin Basyir: “Pada waktu shalat dua hari raya dan shalat Jum’at, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sabbihisma rabbikal
a’laa dan hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah.” [8]

Dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah, dia berkata, “‘Umar keluar pada hari raya. Lantas dia mengirim surat ke Abu Waqid al-Laitsi yang isinya, “Pada waktu hari raya seperti ini, (surat) apa yang dibaca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Dia menjawab, “(Surat) Qaaf dan Waqtarabat.” [9]

F. Khutbah Setelah ‘Id
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman Radhiyallahu anhum. Masing-masing melaksanakan shalat sebelum khutbah.” [10]

G. Shalat Sunnah Sebelum Dan Sesudahnya
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at. Beliau tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya.”[11]

H. Hal-Hal Yang Disunnahkan Pada Waktu Hari Raya
1. Mandi
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, dia ditanya tentang mandi, lalu dia berkata: “(Ketika) hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari raya ‘Idul Fithri, dan ‘Idul Adh-ha.”(*)

2. Mengenakan Pakaian Terbaik
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan pakaian merah bermotif pada waktu hari raya.” [12]

3. Makan Sebelum Keluar Pada Waktu Hari Raya ‘Idul Fithri
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di pagi hari raya Idul Fithri melainkan makan beberapa buah kurma terlebih dahulu.” [13]

4. Mengakhirkan Makan Ketika Hari Raya ‘Idul Adh-ha Hingga Makan dari Sembelihannya.
Dari Abu Buraidah Radhiyallahu anhu, “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di hari raya ‘Idul Fithri (untuk melakukan shalat ‘Id) melainkan makan terlebih dahulu. Dan tidaklah beliau makan pada waktu
hari raya ‘Idul Qurban kecuali setelah menyembelih.” [14]

5. Menempuh Jalan yang Berbeda (Ketika Pergi dan Pulang)
Dari Jabir : “Ketika hari raya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil jalan yang berbeda.”[15]

6. Bertakbir pada Kedua Hari Raya
Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185].

Ayat ini berkenaan dengan ‘Idul Fithri.

Mengenai ‘Idul Adh-ha, Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” [Al-Baqarah: 203].

Dan firman-Nya:

كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

“… Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu…” [Al-Hajj: 37]

Waktu bertakbir pada hari raya ‘Idul Fithri semenjak keluar menuju tanah lapang sampai shalat akan ditegakkan

Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berkata [16] , “Yazid bin Harun meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Abi Dzi’b, dari az-Zuhri, ‘Ketika hari raya ‘Idul Fithri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sambil bertakbir hingga tiba di tanah lapang. Bahkan hingga ketika akan shalat. Seusai beliau shalat, beliau hentikan takbir.’”

Al-Albani rahimahullah berkata,(*) “Sanadnya shahih mursal. Diriwayatkan pula dari jalur lain, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma secara marfu’ yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi (III/279), dari jalan ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nafi’, dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada waktu dua hari raya bersama al-Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Ali, Ja’far, al-Hasan, al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengeraskan tahlil dan takbir. Beliau menempuh jalan al-Hadzdzaa’iin hingga tiba di tempat shalat. Tatkala selesai, beliau pulang melalui al- Hadzdzaa’iin hingga sampai di rumah.” Al-Baihaqi berkata, “Riwayat ini lebih baik daripada yang pertama tadi.”

Saya (al-Albani) berkata, “Para perawinya terpercaya. Mereka adalah para perawi Muslim, kecuali ‘Abdullah Ibnu ‘Umar, yaitu al-‘Umari. Adz-Dzahabi berkata, “Tepercaya tapi ada masalah dalam hafalannya.” Adz-Dzahabi dan selainnya dalam rumusnya menyatakan bahwa dia termasuk perawi Muslim. Perawi semisal ini dapat dijadikan sebagai penguat. Dia adalah penguat yang bagus untuk hadits mursal dari az-Zuhri. Menurut saya hadits tersebut shahih, baik secara mauquf maupun marfu, wallahu a’lam.”

Waktu takbir hari raya ‘Idul Adh-ha dari shubuh hari ‘Arafah hingga ‘Ashar di akhir hari tasyriiq (13 Dzul Hijjah, yaitu saat terbenamnya matahari-ed.)

Berdasarkan hadits shahih dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu.[17]

Lafazh takbir banyak ragamnya. ‘Riwayat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhuma menyebutkan dengan lafazh genap. Dia bertakbir pada hari tasyriiq dengan lafazh, “Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd.”

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan lafazh tersebut (II/167) dengan sanad shahih. Akan tetapi dia menyebutkannya di tempat lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Al-Baihaqi (III/ 315) juga meriwayatkannya dari Yahya bin Sa’id dari al-Hakam, yaitu Ibnu Farwah Abu Bakar dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dengan takbir tiga kali. Sanadnya juga shahih.”[18]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/463 no. 974)], Shahiih Muslim (II/605 no. 890), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/487 no. 1124), Sunan at-Tirmidzi (II/25 no. 537), Sunan Ibnu Majah (I/414 no. 1307), dan Sunan an-Nasa-i (III/180).
(*). Suatu tempat di Bashrah. Lihat Mu’jamul Buldaan,-ed.
[2]. Muttafaq ‘alaihi: [Al-Misykaah (no. 1431)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/469 no. 980).
[3]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1005)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/486 no. 1123), Sunan Ibni Majah (I/418 no. 1317). Tasbih adalah waktu ketika matahari telah naik, berlalunya waktu yang dimakruhkan untuk shalat, dan masuknya waktu shalat subhah, yaitu nafilah (sunnah). Lihat ‘Aunul Ma’buud (III/486).
[4]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/451 no. 960)], Shahiih Muslim (II/604 no. 886).
[5]. Cuplikan dari hadits sebelumnya pada riwayat Muslim.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1057)], al-Misykaah (no. 1441), dan Sunan Ibnu Majah (I/407 no. 1279).
[7]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 639)], Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1058), Sunan Ibni Majah (I/407 no. 1280), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/6, 7 no. 37, 1138).
[8]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 644)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1281), Shahiih Muslim (II/598 no. 878), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/472 no. 1109), Sunan at-Tirmidzi (II/22 no. 531), Sunan an-Nasa-i (III/184), dan Sunan Ibnu Majah (I/408/1281), tanpa kalimat: “Dan shalat Jum’at”.
[9]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/118)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 106), Shahiih Muslim (II/607 no. 891), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/15 no. 1142), Sunan at-Tirmidzi (II/23 no. 532), Sunan an-Nasa-i (III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/408 no. 1282).
[10]. Shahih: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 962)], Shahiih Muslim (II/602 no. 884).
[11]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 964)], Shahiih Muslim (II/606 no. 884), dan Sunan an-Nasa-i (III/193).
(*). Telah disebutkan takhrijnya.
[12]. Sanadnya jayyid: [Ash-Shahiihah (no. 1279)], al-Haitsami berkata dalam Majmaa’uz Zawaaid (II/201), “Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam al-Ausath, dan para perawinya terpercaya.”
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 448)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/446 no. 953), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 541).
[14]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 447)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/341 no. 1426), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 540), dengan lafazh:”Sampai mengerjakan shalat.”
[15]. Shahih: [Al-Misykaah (no. 1434)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/472 no. 986).
[16]. Shahih: [Ash-Shahihah (171)], (II/146).
(*). Al-Irwaa’ (III/123).
[17]. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Syaibah (II/165), dari dua jalur. Salah satunya baik. Dari jalur ini pula al-Baihaqi meriwayatkan (III/314). Diriwayatkan pula semisalnya dari Ibnu ‘Abbas c dengan sanad shahih. Al-Hakim juga meriwayatkan darinya serta Ibnu Mas’ud z (I/300). Lihat Irwaa’ul Ghaliil (III/125).
[18]. Irwaa’ul Ghaliil (III/125).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s