SANGGAHAN TERHADAP MEREKA YANG EKSTRIM DALAM MENETAPKAN QADAR DAN MENOLAK ADANYA KEHENDAK DAN KEMAMPUAN MAKHLUK

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pembaca yang budiman.

Seandainya kita mengambil dan mengikuti pendapat golongan pertama, yaitu mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sialah syari’at ini dari semula. Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatan yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatan yang tercela. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan dirinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala -Mahasuci Allah dari pendapat dan pemahaman yang demikian ini- adalah zhalim jika mengadzab dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, sebab perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan keinginannya.

Pendapat seperti ini jelas sangat bertentangan dengan firman Allah:

“Artinya : Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata, ‘Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku’, Allah berfirman, ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala; yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.’ Sedang (syaitan) yang menyertai dia berkata, ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.’ Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan disisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu.” [Qaaf : 23-29]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa siksaan dariNya itu adalah karena kemahaadilanNya, dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-hambaNya. Sebab Allah telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi manusia. Akan tetapi mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan mempunyai alasan dihadapan Allah untuk membantah keputusanNya.

Andaikata kita menganut pendapta bathil ini, niscaya sia-sialah firman
Allah Ta’ala:

“Artinya : (Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [An-Nisa’: 165]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak ada balasan lagi bagi manusia setelah diutusnya para rasul, karena sudah jelas hujjah Allah atas mereka. Maka seandainya masalah qadar bisa dijadikan alasan bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun sesudah diutusnya para rasul. Karena qadar (takdir) Allah sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para rasul dan tetap sesudah diutusnya mereka.

Dengan demikian pendapat ini adalah bathil karena tidak sesuai dengan nash dan kenyataan, sebagaimana telah kami uraikan contoh-contoh di atas.

[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s