Kenyataan (Realita) Umat Islam Dan Berita Kenabian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]

Kata Pengantar Penulis

Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah dan ampunanNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami dan keburukan amalan kami. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.

Ama ba’du.

Sesungguhnya umat Islam telah terdampar di persimpangan jalan, mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah umat Islam walaupun telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti pada saat-saat lemah dan jauh dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh. Kaum muslimin kehilangan sebagian dari negeri atau harta mereka atau hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan was-was.

Akan tetapi seorang yang mengerti sunatullah yang berkaitan dengan perubahan tidak ragu bahwa kekalahan akan kembali kepada musuh-musuh umat Islam, hal itu seperti yang dikatakan tokoh mereka : “kami adalah satu kaum yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Islam, maka ketika kami menginginkan kemulian pada selain Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menghinakan kami”.

Oleh karena itu mereka cepat sekali mengoreksi (mengintrospeksi) diri, lalu mendapatkan sumber penyakitnya dan sadar akan kelemahannya, kemudian mereka segera memulai amalan yang merupakan tahap kembali kepada agama mereka, sehingga Allah mengangkat kehinaan tersebut dari diri mereka dan kekuatan mereka semakin bertambah kemudian beralihlah kekuatan mereka ke sebelah timur setelah lebih dahulu berada di sebelah barat.

Di sana muncul orang-orang yang -tumbuh berkembang- di dalam naungan Islam namun tidak mengenal kejahiliyahan, maka terlepaslah ikatan Islam itu satu persatu, dan setiap lepas satu ikatan, manusia akan berpegang dengan ikatan yang berikutnya.

Sesungguhnya kegelapan yang menyelimuti kenyataan umat Islam dewasa ini lebih dahsyat dan pahit, akan tetapi saya yakin dengan petunjuk dari Rabb saya bahwa hal itu akan hilang dan berlalu -dengan izin Allah-.

Oleh karena itu kita seharusnya memandang kenyataan tersebut dengan cara pandang Islam dan mencari penyebab mengapa hal itu dapat terjadi, kemudian memilih manhaj yang benar yang tidaklah baik akhir umat ini kecuali dengannya, karena awal umat ini telah baik dengannya.

Dan Allah maha menepati janjinya, maka aku bersandar dan percaya padanya..

Ditulis oleh
Abu Usamah Saliim bin ‘Ied Al-Hilaaly

KENYATAAN (REALITA) UMAT ISLAM DAN BERITA KENABIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Pada kenyataannya ada dua hal yang membuat umat Islam kehilangan keseimbangan, sehingga berjalan limbung ke kanan dan ke kiri sampai ada sekelompok darinya keluar dari jalan induk (lurus).

Pertama : Al-Wahn
Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya dan gamblang sekali dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”

Hadits ini -yang menggambarkan keadaan Al Wahn- memberikan gambaran dan pemaparan yang sangat jelas sekali tentang keadaan (realita) umat Islam.

[1]. Musuh-musuh Allah yang terdiri dari tentara iblis dan pembantu-pembantu syaithan mengawasi pertumbuhan Islam dan negaranya, kapan mereka dapat melihat Al-Wahn menjalar padanya dan menggerogoti tubuhnya, mereka pun menerkamnya dan meninggalkan sisa-sisa dari yang berharga miliknya.

Kaum kafir dan musyrik ahli kitab senantiasa melakukan hal tersebut sejak awal kemunculan Islam ketika negara Islam baru dibangun pondasinya dan ditegakkan bangunannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al-Madinah an-Nabawiyah dan sekitarnya.

Hal itu telah terjadi dengan sangat jelas dalam hadits (tiga orang yang tidak ikut perang tabuk) sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah : “Siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik ?” Lalu orang-orang langsung menunjukkannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya : “amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesunguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-sian, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu”

Lihat dan renungkanlah wahai saudaraku yang tercinta, bagaimana kaum kafir yang berada di sekeliling negeri Islam mengintai berita-beritanya sehingga jika mendapat kesempatan, mereka akan menyerang negeri Islam tersebut dari segala penjuru. Dan hal itu semakin jelas dengan :

[2]. Umat-umat kafir menyeru sebagian mereka kepada sebagian yang lain (saling mengajak) dan berkumpul mengadakan persekongkolan (konspirasi) untuk menyerang Islam, negaranya, pemeluknya dan para da’i-da’inya.

Barangsiapa yang telah membaca sejarah pengiriman pasukan salib (perang salib) dan mengetahui rahasia perang dunia pertama, di saat orang-orang Eropa (bani Ashfar) mengirim pasukan tentaranya untuk menghancurkan negara kekhalifahan, akan sangat jelas baginya indikasi tersebut seperti jelasnya matahari di siang bolong.

Sebagai penyempurna hal tersebut, mereka mendirikan forum-forum, perkumpulan-perkumpulan dan majlis-majlis kemudian perkumpulan dunia yang baru (organisasi internasional) yang syiar-syiar mereka dipenuhi oleh katamakan dan kerakusan. Dan yang menjelaskan (hal itu) adalah :

[3]. Negeri-negeri kaum muslimin adalah pusat kekayaan dan barokah yang membuat umat-umat kafir berusaha untuk menguasainya, oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan bejana besar yang penuh berisi makanan yang enak yang membuat orang-orang yang lapar ingin memakannya, lalu mereka bersama-sama menyerangnya, dan setiap orang ingin mengambil bagiannya sendiri-sendiri.

[4]. Umat-umat kafir telah memakan kekayaan kaum muslimin, mencuri sumber kekayaan alamnya serta mengambilnya dengan semena-mena tanpa ada yang melarang dan mencegah.

[5]. Umat-umat kafir telah menjadikan negeri-negeri muslimin sebagai serdadu yang dikendalikan dan membaginya sebagai negara-negara kecil yang tercerai berai, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Hawaalah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Kalian akan dijadikan beberapa pasukan, pasukan di Syam, pasukan di Iraq dan pasukan di Yaman, lalu aku bertanya : ‘Pilihkan untuk kami wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu beliau berkata : ‘Pilihlah oleh kalian yang di Syam, barang siapa yang enggan, maka bergabunglah dengan yang di Yaman dan hendaklah meminum airnya, karena Allah telah menjaga Syam dan penduduknya’. berkata Rabi’ah : ‘Aku mendengar Abu Idris Al-Kaulany menceritakan hadits ini dan berkata : ‘Siapa yang telah dijaga Allah maka tidak akan lenyap (hancur)”. [Hadits Shahih, dan dia memiliki banyak jalan periwayatannya, hal itu dijelaskan oleh Syaikh kami Abu Abdirrahman Al-Albany dalam Takhriij Ahaadits As-Syam wa Dimasyq]

Bukankah demikian kenyataan (realita) umat Islam ; negeri-negeri kecil yang tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki hak mengatur perkara dalam dan luar negeri mereka sendiri dan mereka menggantungkan kekuatan, perlindungan dan politik mereka kepada umat-umat kafir. Allahul Muta’an wa Alaihi Attuklaan

[6]. Umat-umat kafir belum menghargai (takut atau segan) kembali kepada kaum muslimin karena kewibawaan muslimin telah hilang di mata umat yang lain. Kewibawaan yang dahulu menggetarkan persendian umat-umat kafir dan membuat para hizbu syaithon menggigil ketakutan, karena senjata rasa takut yang mematikan tersebut belum kembali memenuhi hati-hati kaum kafir dan mengguncang benteng-benteng mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” [Ali-Imran : 151]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Aku telah dimenangkan dengan perasaan takut (pada musuh) sejak perjalanan satu bulan” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/436-Fathul Baari) dan Muslim (561) dari hadits Jaabir bin Abdillah]

Dan kekhususan ini juga dimiliki oleh umat Islam dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu diatas.

“Artinya : Dan Allah akan menghilangkan dari diri mush-musuh kalian rasa takut terhadap kalian”

[7]. Unsur-unsur kekuatan umat Islam bukan pada jumlah, perlengkapan persenjataan, tentara berkuda dan infantrinya, akan tetapi pada aqidah dan manhajnya, karena mereka adalah umat aqidah dan pemikul panji tauhid. Tidaklah kalian telah mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan orang yang bertanya tentang jumlah.

“Artinya : Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak”

Dan renungkanlah pelajaran yang ada di perang Hunain, maka kamu mendapatinya sebagai contoh yang tepat untuk setiap zaman.

“Artinya : Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahnya, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun” [At-Taubah : 25]

[8]. Umat Islam belum lagi diperhitungkan oleh umat-umat dunia, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir”

Dan dalil (indikasi) ini menggambarkan hal-hal berikut :

[a] Buih yang dibawa oleh banjir yang besar akan mengalir bersama banjir tersebut dan terbawa bersama arusnya, demikian juga umat Islam berjalan bersama arus umat-umat kafir sehingga seandainya ada suara burung gagak yang keras atau lalat berdengung dalam majlis “fitnah-fitnah”, maka mereka sungguh-sungguh tersungkur dalam keadaan bisu dan buta dan menjadikannya sebagai satu kitab yang pasti kebenarannya dan sebagai penjelas.

[b] Arus banjir yang membawa buih tidak ada manfaatnya bagi manusia, dan demikianlah umat Islam belum dapat menunaikan perannya (ke ikut sertaannya) untuk dapat menjadi pemimpin umat-umat yang lain yaitu amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)

[c] Buih-buih itu akan hilang sebagai suatu yang tidak berharga, oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti orang yang berkuasa dan menetapkannya kepada sekelompok orang yang dapat memberi manfaat kepada manusia di permukaan bumi ini.

[d] Buih yang terbawa arus banjir adalah campuran dari kotoran-kotoran tanah dan sampah-sampah, demikian juga pemikiran-pemikiran banyak dari kaum muslimin adalah kumpulan dari sampah filsafat, sisa-sisa jelek kemajuan dan peradaban modern.

[e] Buih yang dibawa banjir tidak tahu kemana dia harus mengalir, maka dia seperti orang yang mengeruk kuburnya dengan kuku-kukunya, demikian juga umat Islam tidak mengerti apa yang direncanakan oleh musuh-musuh mereka, ditambah lagi mereka mengikuti setiap suara dan condong bersama hembusan angin (tidak punya pendirian yang kokoh)

[9]. Umat Islam telah menjadikan dunia segala-galanya, oleh karena itu mereka membenci kematian dan mencintai kehidupan, karena mereka menghabiskan umurnya untuk dunia dan tidak mengambil bekal untuk akhirat.

Dan ini yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam takutkan atas umatnya akan sampai pada keadaan yang seperti ini

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

“Artinya : JIka telah ditaklukan untuk kalian negara Parsi dan Rumawi, kaum apakah kalian ? Berkata Abdurrahman bin Auf : ‘Kami melakukan apa yang Allah perintahkan’ Beliau berkata : ‘Tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling behasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum Muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain” [Hadits Riwayat Muslim (2961)]

Oleh karena itu ketika diataklukkan gudang harta Kisra (raja Parsi) Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata.

“Artinya : Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan”.

[10]. Umat-umat kafir tidak mampu menghancurkan umat Islam seluruhnya walaupun mereka telah berkumpul dari seluruh penjuru dunia untuk hal itu -dan mereka berkumpul- sebagaiman telah disebutkan dengan jelas dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyatukan untukku dunia, lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya seluas yang disatukan Allah untukku dan aku diberi dua harta simpanan yaitu emas dan perak lalu aku memohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar dia tidak menghancurkannya dengan kelaparan yang menyeluruh, dan menguasakan atas mereka musuh-musuhnya dari selain mereka sendiri lalu menghancurkan seluruh jama’ah mereka, dan Rabb-ku berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah memutuskan satu qadha’ maka tidak dapat ditolak, dan Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan kelaparan yang menyeluruh dan tidak akan menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka yang menghancurkan seluruh jama’ahnya walaupun mereka telah berkumpul dari segala penjuru – atau mengatakan- : Orang yang ada diantara penjuru dunia- sampai sebagian mereka membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lainya” [Hadits Shahih Riwayat Muslim (2889)]

Lalu apa yang membuat pohon kokoh yang akarnya menancap kebumi dan cabangnya di langit menjadi kering tidak memiliki kekuatan ?

Jawabannya ada pada (hadits Hudzaifah) :

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s