Menjadi Hamba Allâh Ta’âla Dengan Sesungguhnya

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV) 
 

Tugas inti seorang manusia adalah beribadah kepada Allâh al-Khâliq (Yang Maha Pencipta).

Allâh Ta’âla berfirman :

Qs. ad-Dzâriyât/51:56

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku
(Qs. ad-Dzâriyât/51:56)

Untuk membantu manusia dalam merealisasikan tugas inti ini, Allâh Ta’âla menurunkan kitab-kitab-Nya (Lihat QS. an-Nahl/16:2) dan mengirimkan para rasul-Nya (Lihat QS. al-Anbiya’/21:25).

Tugas utama ini lazim disebut ubûdiyyah (penghambaan diri). Ubûdiyyah ini tidak bersifat parsial dan tidak hanya berupa ibadah-ibadah di masjid saja. Cakupan ubûdiyyah sangatlah luas, seluas makna ibadah. Karena ibadah adalah sebuah ungkapan yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allâh Ta’âla baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun batin. Artinya, seluruh aktifitas yang tidak terlarang yang dikerjakan oleh seseorang bisa bernilai ibadah, bila dilandasi niat ikhlas dan harapan mendapatkan pahala. Inilah ‘pekerjaan’ inti manusia di dunia, menghambakan diri kepada Allâh, Dzat yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta beserta isinya.

Orang yang taat dan patuh menjalankan ibadah-ibadah fardhu atau sunnah dan mengikhlaskan seluruh aktifitas hariannya kepada Allâh Ta’âla dalam rangka mengharap ridha-Nya, berarti dia telah menjadikan semua kesibukan sebagai sarana untuk mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’âla. Dengan demikian, ia betul-betul menjadi ‘abdullâh (hamba Allâh) gelar terbaik bagi manusia di hadapan-Nya. Pintu-pintu yang mengantarkan seorang hamba menuju tangga terbaik tersebut, sudah dijelaskan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Setiap saat ada ibadah yang bisa dilakukan seorang hamba, sehingga rentang waktu 24 jam pun akan sangat produktif bila dihabiskan untuk urusan ubûdiyyah kepada Allâh Ta’âla. Namun itu bukan suatu hal yang mudah. Banyak rintangan dan halangan menuju gerbang ubûdiyyah. Rintangan itu, ada yang bersifat internal, seperti kebodohan (jahâlah) dan hawa nafsu yang menyeret manusia sehingga terbuai dan terjerat oleh kenikmatan maksiat sesaat dan ada juga yang bersifat eksternal, misalnya kawan yang buruk dan bujuk rayu setan.

Karenanya permohonan kepada Allâh Ta’âla agar kita dibantu dalam mewujudkan ubûdiyyah kepada Allâh Ta’âla adalah sebuah keniscayaan. Renungkanlah doa yang diajarkan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu’ anhu agar dibaca setiap selesai shalat :

رَبِّ أَعِنِّـي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Wahai Rabb-ku bantulah aku agar senantiasa berdzikir kepada-Mu,
bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.

Permohonan yang singkat ini mencakup isti’ânah (permohonan tolong) kepada Allâh Ta’âla agar diberi kemampuan untuk menjalankan ibadah dengan hati seperti bersyukur, dengan lisan seperti dzikir dan anggota badan.

Kesabaran dalam menjalankan ibadah juga merupakan faktor penting keberhasilan seseorang dalam mewujudkan dan menjaga kontinuitas penghambaan dirinya kepada Allâh Ta’âla. Allâh Ta’âla berfirman, yang artinya, “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka beribadahlah kepada-Nya dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Maryam/19:65)

Dalam ayat ini perintah beribadah diiringi dengan perintah agar bersabar.

Jika usaha keras, doa dan kesabaran dalam menjalankan ibadah sudah ada dan bersinergi pada diri seseorang, maka segala rintangan akan bisa dilewati bi idznillâh. Sungguh beruntung orang yang seperti ini. Dia akan terus beribadah. Dia akan menjadikan segala waktu dan aktifitasnya bernilai ibadah. Renungkanlah perkataan salah seorang shahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

وَأَرْجُو فِـى نَوْمَتِـى مَا أَرْجُو فِـى قَوْمَتِـى

Dari tidurku aku mengharapkan (bisa meraih)
apa yang aku harapkan (bisa diraih) dari shalat malamku.
(Muttafaqun ‘alaih)

Sebaliknya, alangkah ruginya orang yang terpedaya dengan kemilau dunia dan keindahan semu yang ditawarkan nafsu syahwat. Kelalaian ini akan ditebus dengan kesengsaraan yang teramat berat dan menyakitkan. Karena tanpa disadari, dia telah menghambakan dirinya kepada setan yang telah bersumpah dihadapan Allâh Ta’âla untuk menghalangi manusia dari beribadah kepada Allâh Ta’âla.

Semoga Allâh Ta’âla melindungi kita semua dari segala tipu daya setan yang terkutuk. Dan semoga Allâh Ta’âla senantiasa memberikan hidayah dan pertolongan kepada kita semua untuk merealisasikan arti ubûdiyyah kepada Allâh Ta’âla dalam kehidupan kita sehari-hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s