MAKNA IFTIRAQ (PERPECAHAN UMAT)

Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql

MUKADIMAH
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkanNya, nisaya tiada seorangpun yang dapat memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tida Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagiNya. Yang berfirman dalam kitabNya.

“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya” [Al-An’am : 153]

Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Yang telah memperingatkan umat dari musibah yang bakal terjadi, yakni bid’ah dan perpecahan, dalam sabda beliau.

“Artinya : Kalian akan mengikuti umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga sekiranya mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Wa ba’du

Topik utama yang harus dianggkat dan dibahas oleh para ahli ilmu dan para penuntut ilmu sekarang ini dalah masalah “perpecahan umat!” Mafhumnya, etiologi serta solusinya. Masalah ini sangat perlu diketahui segenap kaum muslimin, lebih-lebih bagi para penuntut ilmu.

Apalagi di zaman sekarang ini kelompok-kelompok ahli bid’ah mulai mengembangkan sayapnya. Hawa nafsu semakin menggila hingga menguasai manusia. Sehingga kejahatan dan kemunafikan merajalela ke segala penjuru.

Benar! Sekalipun majlis-majlis ilmu menjamur di mana-mana, namun bid’ah-bid’ah juga semakin berkembang pesat. Memang pada hari ini ilmu banyak disebar, namun banyak yang tidak mendapat berkah dan faidah dari ilmunya. Barangkali karena ia menuntut ilmu tidak dari sumber aslinya, yaitu tidak mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar para imam yang dijadikan panutan yang tersebar dalam karya-karya mereka. Atau barangkali mereka menimbanya bukan dari ahli ilmu, atau tidak mengikuti manhaj ahli ilmu dan ahli fiqih dalam menuntut ilmu.

Meskipun sarana menuntut ilmu terbuka luas pada hari ini, namun nikmat tersebut justru berdampak negatif terhadap banyak orang. Mereka menjadi tergesa-gesa dalam menimba ilmu tidak sebagaimana mestinya! Di samping mereka merasa cukup tanpa harus belajar kepada para ulama. Tentu saja itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlindung diri dari hal semacam itu.[1]

Ilmu yang mendatangkan berkah hanyalah ilmu yang direngguk dari ulama. Itulah pedoman utama yang merupakan jalan orang-orang yang beriman. Adapun hanya mencukupkan menuntut ilmu melalui sarana-sarana (seperti buku dan kaset) belaka, tentu manfaatnya hanya sedikit. Hal itu juga bisa menjadi katalisator munculnya bid’ah dan penyimpangan pemikiran serta perpecahan dan perselisihan dalam agama

Maka dari itu, tapik kita kali ini seputar perpecahan umat, mafhum, etiologi dan solusinya.

Pembasahan kali ini akan kami rangkum dalam lima pokok permasalahan

MAKNA IFTIRAQ (PERPECAHAN UMAT)
Secara etimologi, iftiraq berasal dari kata al-mufaraqah (saling berpisah), dan al-mubayanah (saling berjauhan), dan al-mufashalah (saling terpisah) serta al-inqitha’ (terputus). Diambil juga dari kata al-insyi’ab (bergolong-golongan) dan asy-syudzudz (menyempal dari barisan). Bisa juga bermakna memisahkan diri dari induk, keluar dari jalur dan keluar dari jama’ah.

Secara terminologi, perpecahan adalah keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah dalam masalah ushuluddin yang qath’i, baik secara total maupun parsial. Baik dalam masalah i’tiqad ataupun masalah amaliyah yang berkaitan dengan ushuluddin atau berkaitan dengan maslahat umat atau berkaitan dengan keduanya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang dibawah panji ashabiyah, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [Hadits Riwayat Muslim]

Menyelisihi salah satu pedoman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam aqidah terhitung perpecahan dan memisahkan diri dari jama’ah. Demikian pula melanggar ijma’, mengeluarkan diri dari jama’ah serta imam yang mereka sepakati dalam hal-hal yang berkaitan dengan maslahat umum terhitung perpecahan dan memisahkan diri dari jama’ah.

Siapa saja yang melanggar amalan sunnah yang disepakati kaum muslimin termasuk perpecahan. Sebab ia telah memisah dari jama’ah.

Semua kekufuran akbar termasuk perpecahan, namun bukan setiap perpecahan tergolong kekufuran.

Maksudnya, setiap amalan ataupun keyakinan yang bisa mengeluarkan seseorang dari pokok ajaran Islam, dan dari hal yang qath’i dalam agama ini juga dari sunnah dan jama’ah, dan hal ini semua dapat menggiringnya kepada kekufuran, maka perbuatannya itu disebut iftiraq (memisahkan diri). Namun tidak semua perpecahan itu tergolong kekufuran. Yakni, mungkin saja suatu kelompok atau sekumpulan manusia atau sebuah jama’ah keluar dari Ahlus Sunnah namun tidak dihukumi kafir. Sekalipun memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dalam prinsip-prinsip tertentu, seperti kelompok Khawarij. Khawarij generasi pertama telah memisahkan diri dari kaum muslimin, bahkan mereka mengangkat senjata terhadap umat ini. Mereka memisahkan diri dari jama’ah serta membangkang terhadap imam kaum muslimin.

Walaupun begitu, para sahabat tidak menghukumi mereka kafir, bahkan mereka berbeda pendapat dalam masalah ini. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ditanya status mereka, beliau tidak memvonis mereka kafir. Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma serta beberapa sahabat lainnya. Mereka juga bersedia shalat dibelakang tokoh khawarij bernama Najdah Al-Haruriy. Begitupula Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma , beliau membalas surat seorang tokoh Khawarij bernama Nafi’ bin Al-Azraq dan mendebatnya dengan Al-Qur’an, sebagaimana hal itu lumrah dilakukan terhadap sesama kaum muslimin.[2]

[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari.]
_________
Foote Note.
[1] Dalam sebuah hadits riwayat, Muslim dari Zaid bin Arqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya : ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat’. Lihat Shahih Muslim kitab Adz-Dzikr hadits no. 2723
[2] Lihat Minhajus Sunnah, karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah V/247-248

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s