Diantara Hikmah Penciptaan Emas Dan Perak

Coba Anda perhatikan hikmah ilahi pada dua barang berharga yang mulia ini, yaitu emas dan perak! Tidak seorangpun pakar ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan emas dan perak seperti yang telah diciptakan oleh Allah tersebut. Padahal mereka sangat antusias untuk menirunya dan mengerahkan segala usaha dan kesungguhan untuk itu, namun yang bisa hanya membuat emas imitasi. Sekiranya mereka diberi kemampuan untuk membuat emas seperti yang dibuat oleh Allah Subhaanahu Wata’ala tentunya banyak urusan dunia yang menjadi rusak berantakan. Niscaya emas dan perak akan melimpah jumlahnya di tengah manusia sehingga bertebaran seperti barang pecah-belah dan tembikar.

Jika demikian keadaannya, niscaya maslahat diciptakannya emas dan perak akan sirna. Dan jika jumlahnya melimpah juga akan menyebabkab harganya jatuh, sehingga hilanglah keberadaannya sebagai barang berharga dalam harta benda manusia, dalam muamalah dan dalam usaha mereka. Tentu tidak ada manusia yang membanggakan dirinya, sebab seluruhnya memiliki emas dan perak. Sekiranya Allah membuat kaya seluruh umat manusia, itu berarti Allah telah membuat mereka fakir seluruhnya. Siapakah yang mau merendahkan dirinya sendiri dengan menyia-nyiakan barang berharga yang merupakan pilar tegaknya kehidupan dunia ini? Maha Suci Allah yang telah menjadikan kelangkaan emas sebagai alat pengatur alam ini. Kelangkaan emas dan perak tidak seperti halnya kelangkaan batu yaqut merah, yang hampir-hampir tidak dapat ditemukan, sehingga dapat meluputkan banyak maslahat. Namun Allah menciptakan dan mengeluarkan dari bumi menurut kadar yang telah ditetapkan olehNya menurut kebijaksanaan dan rahmatNya serta memperhitungkan kemaslahatan hambaNya.

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan penjelasannya :
“Saya telah membaca tulisan Syaikh al-Fadhil Jibril bin Ruuh al-Anbari, ia berkata, “Beberapa orang pekerja tambang telah bercerita kepadaku bahwa mereka terlibat dalam pencarian tambang emas dan perak di salah satu kaki gunung. Sampailah mereka di satu tempat yang bertumpuk di situ perak menjulang tinggi seperti sebuah gunung. Namun tempat tersebut dihalangi oleh sebuah sungai yang sangat deras arusnya sehingga tidak ada cara untuk menyeberanginya. Maka mereka pun membuat alat yang dapat menyeberangkan mereka ke sana. Setelah mereka merampungkan alat tersebut dan bersiap hendak menyeberang, mereka tidak lagi menemukan jejaknya dan mereka tidak tahu ke arah mana mereka menuju. Akhirnya mereka kembali dengan menggigit jari.”

Maksudnya adalah hikmah ilahi menetapkan bahwa jumlah emas dan perak lebih langka daripada besi, tembaga atau timah demi kemaslahatan umat manusia. Maka dari situ dapat dipetik satu pelajaran bahwa semakin sedikit dan langka suatu barang maka nilainya juga semakin tinggi dan mulia. Selama persediaannya terbatas, pasti disukai oleh manusia. Sebaliknya, jika jumlahnya melimpah ruah, banyak dimiliki manusia dan dapat dimiliki oleh siapa saja, baik dari kalangan umum maupun khusus, maka harganya juga jatuh dan minat orang terhadapnya juga berkurang. Dari situ muncullah satu pepatah: “Semakin langka suatu barang, semakin mahal harganya.” Oleh sebab itu pula orang yang paling zuhud terhadap ilmu seorang alim adalah keluarga dan tetangganya, dan orang yang paling berhasrat terhadap ilmunya adalah orang-orang yang jauh darinya.

(Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan al-Imam Ibnul Qayyim, Pustaka Darul Haq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s