AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL (TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA)

Ketujuh belas:
AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL (TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA)[1]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya beriman tentang turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (an-nuzul) ke langit dunia pada setiap malam. اَلنُّزُوْلُ (an-Nuzul) termasuk di antara Sifat-Sifat Khabariyah Fi’liyyah. Terdapat sejumlah dalil yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit terendah (langit dunia) pada setiap malam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.” [2]

Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th. 449 H) rahimahullah berkata: “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa meng-umpamakan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.”[3]

Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H) berkata: “Pembahasan tentang kabar-kabar yang benar sanadnya dan shahih penopangnya telah diriwayatkan oleh ulama Hijaz dan Irak, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang turunnya Allah Azza wa Jalla ke langit dunia (langit terendah) pada setiap malam, yang kami akui dengan pengakuan seorang yang mengaku dengan lidahnya, membenarkan dengan hatinya serta meyakini keterangan yang tercantum di dalam kabar-kabar tentang turunnya Allah Azza wa Jalla tanpa menggambarkan kaifiyahnya (bagaimananya), karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memang tidak menggambarkan kepada kita tentang kaifiyah (cara) turunnya Khaliq kita ke langit dunia dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam hanya memberitahukan kepada kita bahwa Rabb kita turun. Sementara itu, Allah Azza wa Jalla dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak menjelaskan bagaimana Allah turun ke langit dunia. Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan apa-apa yang terdapat di dalam kabar-kabar ini perihal turunnya Rabb, tanpa memaksakan diri membicarakan sifat dan kaifiyatnya, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memang tidak mensifatkan kepada kita tentang kaifiyah turun-Nya.[5]

Lalu setelah itu Ibnu Khuzaimah pun menyebutkan sejumlah hadits yang berisi keterangan tentang hal itu, yaitu hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di atas.

Hadits-hadits yang memuat pengertian seperti ini banyak jumlahnya, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sampai menuliskan tentang hal tersebut secara khusus dalam bagian kitab-nya Syarah Hadiitsin Nuzuul. Dan di antara yang dikatakan dalam kitabnya itu adalah: “Sesungguhnya pendapat yang mengatakan tentang turunnya Allah pada setiap malam telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para Salafush Shalih serta para Imam ahli ilmu dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkata dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakekat dan kandungan serta makna-maknanya, sebagaimana orang yang membaca Al-Qur-an tidak memahami makna-makna ayat yang dibacanya. Karena, sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur-an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah).

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahiihul Bukhari, Shahiih Muslim, Muwaththa’ Imaam Malik, Musnad Imaam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan yang semisalnya.”[5]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ.

“Bahwasanya Allah turun pada setiap malam ke langit dunia berdasarkan kabar dari Rasulullah. Shallallahu alaihi wa sallam” [6]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya menukil perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata:

أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.

“Bahwasanya Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya menurut bagaimana yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia menurut bagaimana yang Dia kehendaki.” [7]

Ahlus Sunnah menetapkan tentang turunnya Allah Subhanhu wa Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, orang-orang shalih senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah k dan Rahmat-Nya, mereka melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka menggabungkan antara khauf (rasa takut) dan raja’ (rasa harap) dalam beribadah kepada-Nya.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat Syarah Hadiits an-Nuzuul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Khumaiyis, cet. Darul ‘Ashimah-th. 1414 H.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi (no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).
[3]. Lihat ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadits (no. 38, hal. 46) oleh Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdurrahman ash-Shabuni, tahqiq Badr bin ‘Abdillah al-Badr.
[4]. Diringkas dari Kitaabut Tauhiid (I/275) oleh Imam Ibnu Khuzaimah, tahqiq Samir bin Amin az-Zuhairi, cet. I/ Darul Mughni lin Nasyr wat Tauzi’, th. 1423 H.
[5]. Lihat Majmuu’ Fataawaa (V/322-323) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[6]. Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/358).
[7]. Lihat Ijtimaa’ul Juyuusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyah (hal. 122) oleh Imam Ibnul Qayyim, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s