Arsip

Puasa Hari Asyura’

Oleh:

Al-Hafizh Al-Imam Ibnu Hajar Al-asqalani رحمه الله

Sumber: Fathul Baari Penjelasan Kitab Shahih Bukhari Terbitan: Pustaka Azzam jilid 11

 

Puasa Hari Asyura’

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنْ شَاءَ صَامَ

2000. Diriwayatkan dari Salim, dari bapaknya RA, dia berkata. “Nabi SAW bersabda, ‘Hari Asyura, jika seseorang mau (ia boleh) berpuasa’.”

عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

2001. Dari Az-Zuhri, dia berkata, “Urwah bin Az-Zubair telah mengabarkan kepadaku bahwa Aisyah RA berkata, ‘Rasulullah SAW biasa memerintahkan berpuasa pada hari Asyura’. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka barangsiapa yang mau (berpuasa makai ia boleh berpuasa; dan barangsiapa yang mau (tidak berpuasa maka) ia tidak berpuasa’.”

 

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

2002. Dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah RA, dia berkata, “Hari Asyura’ sebagai hari berpuasa kaum Quraisy pada masa jahiliyah, dan Rasulullah SAW berpuasa pada hari itu. Ketika beliau datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa. Ketika diwajibkan (puasa) Ramadhan, maka beliau meninggalkan puasa hari Asyura’. Barangsiapa mau (berpuasa maka) ia boleh berpuasa padanya, dan barangsiapa yang mau (tidak berpuasa maka) ia boleh meninggalkannya.” Baca lebih lanjut

Bid’ah-Bid’ah Pada Bulan Muharrom

 

  1. Keyakinan tentang keramatnya Muharrom

Keyakinan semacam ini masih bercokol pada seba­gian masyarakat. Atas dasar keyakinan ala jahiliah ini banyak orang merasa enggan menikahkan putrinya pada bulan ini karena akan membawa sial dan kega­galan dalam berumah tangga. (Syarah Masa’il al-Jahiliyyah kar. Dr. Sholih al-Fauzan hlm. 302)

Ini adalah keyakinan jahiliah yang telah dibatalkan Islam. Kesialan tidak ada sangkut pautnya dengan bulan, baik Muharrom, Shofar, ataupun lainnya.

  1. Doa awal dan akhir tahun1

Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid رحمه الله berkata: “Tidak ada sedikit pun dalam syari’at ini doa’ atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir, atau tu­kar-menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama buIan Muharrom dengan sholat, dzikir, atau do’a, puasa akhir tahun, dan sebagainya. Semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!” (Tashih ad-Du’a kar. Bakar Abu Zaid hlm. 107) Baca lebih lanjut

Bila Asyuro’ Jatuh Pada Jum’at atau Sabtu

 

Ada hadits-hadits yang berisi larangan menyen­dirikan puasa Jum’at dan larangan puasa Sabtu kecuali puasa yang wajib. Apakah larangan ini tetap berlaku ketika hari Asyuro’ jatuh pada Jum’at atau Sabtu? Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah menjawabnya: “Adapun orang yang tidak menyengaja berpuasa karena hari Jum’at atau Sabtu—seperti orang yang puasa sehari sebelum dan sesudahnya, atau memiliki kebiasaan berpuasa sehari dan berbuka sehari (puasa Dawud, Red)—boleh berpuasa Jum’at walaupun sebe­lum dan sesudahnya tidak puasa. Atau, bila dia ingin puasa Arofah atau Asyuro’ yang jatuh pada Jum’at maka tidaklah dilarang karena larangan itu hanya bagi orang yang sengaja ingin mengkhususkan (hari Jum’at dan Sabtu tanpa sebab, Pen).” (Kitabush-Shiyam min Syarhil-Umdah kar. Ibnu Taimiyyah: 2/652. Lihat pula Zadul-Ma’ad: 2/79 dan Tahdzibus-Sunan: 3/297 keduanya oleh Ibnul-Qoyyim, Kasyful-Qona’ kar. al-Buhuti Juz 2 Bab Puasa Tathowwu’, al-Muharror kar. Ibnu Taimiyyah: 1/350)

Keutamaan Puasa Asyuro’

Hari Asyuro’ adalah hari yang mulia. Keduduk­annya sangat agung. Ia memiliki keutamaan yang sa­ngat besar.

Imam al-Izz bin Abdus Salam berkata: “Ke­utamaan waktu dan tempat ada dua bentuk. Bentuk pertama bersifat duniawi dan bentuk kedua bersifat agama. Keutamaan yang bersifat agama kembali ke­pada kemurahan Alloh bagi para hamba-Nya dengan cara melebihkan pahala bagi yang beramal, seperti keutamaan puasa Romadhon atas seluruh puasa pada bulan lain, demikian pula hari Asyuro’. Keutamaan ini kembali kepada kemurahan dan kebaikan Alloh bagi para hamba-Nya di dalam waktu dan tem­pat tersebut.” (Qowa’id al-Ahkam kar. al-Izz bin Abdis Salam 1/38, Fadhlu Asyuro’ wa Syahrulloh al-Muharrom kar. Muhammad as-Sholih hlm. 3) Baca lebih lanjut

Sejarah Puasa Asyuro’

Asyuro’ adalah hari kesepuluh Muharrom.1 Ia adalah hari yang mulia. Ia menyimpan sejarah yang mendalam. Ibnu Abbas berkata: “Nabi صلي الله عليه وسلم tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyuro’. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari yang Alloh telah menyelamat­kan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Alloh. Dan kami pun ikut berpuasa.” Nabi صلي الله عليه وسلم berkata: “Kami le­bih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Akhirnya Nabi صلي الله عليه وسلم berpuasa dan memerintahkan kepada manu­sia berpuasa. (HR. al-Bukhori: 2004 Muslim: 1130)

Nabi صلي الله عليه وسلم, dalam berpuasa Asyuro’, mengalami empat fase:2

Fase pertama: Beliau صلي الله عليه وسلم berpuasa di Makkah dan ti­dak memerintahkan kepada manusia berpuasa. Aisyah رضي الله عنها menuturkan: “Dahulu orang Quraisy ber­puasa Asyuro’ pada masa jahiliah. Dan Nabi صلي الله عليه وسلم pun berpuasa Asyuro’ pada masa jahiliah. Tatkala hijrah ke Madinah beliau صلي الله عليه وسلم tetap berpuasa Asyuro’ dan memerintah manusia agar berpuasa pula. Ketika pua­sa Romadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak berpuasa, silakan berpuasa. Bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa.” (HR. al-Bukhori: 2002 dan Muslim: 1125) Baca lebih lanjut

Amalan Sunnah Pada Bulan Muharrom

Mendapati bulan Muharrom merupakan sebuah kenikmatan. Bulan ini sarat pahala dan merupakan ladang bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan hari esoknya. Seorang mukmin me­ngawali tahun dengan ketaatan agar bisa melangkah dengan pasti sepanjang tahun tersebut.

Abu Utsman an-Nahdi1 berkata: “Para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama: sepuluh hari terakhir Romadhon, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama Mu­harrom.” (Latho’iful-Ma’arif hlm. 80) Inilah amalan-amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Muharrom:

  1. Puasa

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْـمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Romadhon adalah puasa pada Syahrulloh (bulan Alloh), Muharrom.” (HR. Muslim: 1982) Baca lebih lanjut