Arsip

KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RADHIYALLAHU ANHU SEORANG ORATOR ULUNG

Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan. Reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.

Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka … [at-Taubah/9:100].
Baca lebih lanjut

Iklan

UMMU ZUFAR AL-HABASYIYAH RADHYALLAHU ANHUMA ; IA MERAIH JANNAH DENGAN KESABARAN

Jannah atau surga, merupakan sebuah tempat yang sarat dengan kenikmatan. Jannah menjadi idaman setiap orang yang beriman. Kenikmatan di jannah tak pernah terbetik dalam hati manusia, belum pernah terdengar oleh telinga, dan pandangan mata pun tak pernah menikmatinya. Kenikmatannya tak terjangkau oleh indera manusia yang terbatas. Akan tetapi, keberadaannya merupakan haqqun (sebuah kebenaran). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang jannah:

فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Di dalamnya (jannah) terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik di hati manusia.
Baca lebih lanjut

KHUBAIB BIN ADI RADHIYALLAHU ANHU, TAK GENTAR MENGHADAPI EKSEKUSI MATI

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus sepuluh orang sahabat sebagai mata-mata.[1] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammengangkat ‘Âshim bin Tsâbit Radhiyallahu anhu sebagai pemimpin ekspedisi ini. Ketika telah berada di daerah Hadah, yang terletak antara ‘Ashafân dan Makkah, berita kedatangan mereka tercium orang-orang kafir dari Bani Lihyân. Sejurus kemudian Bani Lihyân pun melakukan pengejaran terhadap pasukan mata-mata ini. Bani Lihyân mengerahkan kurang lebih seratus orang pemanah. Pengejaran mereka sampailah ke tempat yang disinggahi para sahabat, dan mereka menemukan biji korma.
Baca lebih lanjut

SYUHADA UHUD

Pada tahun tiga Hijriah, tepatnya di pertengahan bulan Syawwal, berkecamuklah Perang Uhud, antara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dengan kaum kuffar Mekkah. Dalam peperangan menegakkan kalimatulhaq ini, banyak dari kalangan sababat Nabi Radhiyallahu anhum yang mendapatkan anugerah syahâdah. Menurut perhitungan ulama sirah, Ibnu Ishâq rahimahullah, tercatat 65 sahabat Rasulullah telah menemui syahid. Peperangan ini disulut oleh kaum musyrikin Mekkah yang ingin menuntaskan dendam kekalahan mereka atas kaum Muslimin di Perang Badr yang terjadi pada tahun sebelumnya. Adapun pada Perang Uhud ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan kekalahan bagi kaum Muslimin, setelah sebelumnya kemenangan sudah berada di depan mata.
Baca lebih lanjut

Sifat Wara’ Salman Al-Farisi Radhiallahu ‘Anhu

“Gaji Salman al-Farisi 5000 dirham sebagai pejabat daerah Zuha yang berpenduduk 30 ribu kaum muslimin. Bila berceramah kepada manusia dia mengenakan jubah yang sekaligus digunakan separuhnya untuk alas duduknya. Jika tiba gajinya dia tidak mengambilnya. Dia makan hanya dari hasil kerja tangannya.” (Al-Wara oleh al-Marwazi, halaman 26)

Sumber: Sifat Wara’ Mutiara Kisah Salaf dalam Berinteraksi dengan Pekara Syubhat dan Haram, karya Ahmad bin Ali Soleh
Artikel www.KisahMuslim.com

Abdullah bin Jahsy Berdoa Agar Telinga dan Hidungnya Putus

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu pada Perang Uhud berkata, “Mengapa kamu tidak berdoa kepada Allah?” Kemudian ia pergi ke suatu pojok. Ia memanggil Sa’ad lalu Sa’ad pun berdoa, “Ya Rabbi, Sekiranya aku dipertemukan dengan musuh, maka pertemukanlah aku dengan musuh yang berpostur besar, pemberani dan penuh emosi, aku akan memerangi dia sebagaimana dia memerangiku. Kemudian YaRabbi, berilah aku kemenangan dengan mampu membunuhnya lalu aku mengambil rampasannya.”

Abdullah bin Jahsy mengamini lalu dia pun memanjatkan doa, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan musuh yang kuat dan pemberani sehingga aku akan membunuhnya di jalan-Mu dan dia juga memberikan perlawanan kepadaku, kemudian ia berhasil menguasaiku dengan menebas hidung dan telingaku. Sehingga kelak, ketika aku datang menghadap-Mu, Engkau akan bertanya kepadaku, ‘Siapa yang menebas hidung dan telingamu ini?’ Maka ketika itu aku akan menjawab, ‘Semua ini aku lakukan di jalan-Mu dan karena rasul-Mu semata.’ Dan Engkau akan membenarkan ucapanku.”

Sa’ad berkata, “Wahai anakku, Doa Abdullah bin Jahsy lebih bagus daripada doaku. Pada siang hari peperangan itu, aku benar-benar melihatnya terbunuh sementara hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali.” (Al-Haitsami berkata, 9/303, “Perawinya adalah perawi yang shahih.”)

Sumber: 99 Kisah Orang Shalih
Artikel www.kisahMuslim.com

Amir bin Al-Akwa’ dan Perang Khaibar

Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Khaibar. Ketika kami berjalan di suatu malam ada seorang laki-laki dari suatu kabilah berkata kepada Amir, ‘Wahai Amir, mengapa engkau tidak membacakan syair-syairmu kepada kami dalam waktu yang singkat ini.’ Amir adalah penyair ulung. Kemudian Amir mendekat untuk membacakan syair,

Baca lebih lanjut