ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA JADIKAN SEBAB/PRANTARA SEBAGAI KABAR GEMBIRA

جَعَلَ اللهُ الأَسْبَابَ لِلْمَطَالِبِ الْعَالِيَةِ مُبَشِّرَاتٍ لِتَطْمِيْنِ الْقُلُوْبِ وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ

Allâh menjadikan prantara bagi semua tujuan yang tinggi sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) agar hati menjadi tenang dan iman bertambah

Allâh Azza wa Jalla Mahakuasa untuk mewujudkan semua tujuan dan maksud yang diinginkan oleh para hamba-Nya tanpa melalui sebab atau prantara. Namun Allâh Azza wa Jalla sengaja menjadikan dan menetapkan prantara atau sebab bagi sebuah tujuan agar menjadi mubassyirat (pembawa kabar gembira), sehingga dengan demikian hati akan menjadi tenang dan keimanan akan bertambah.

Ini bisa ditemukan di banyak tempat, misalnya, ketika Allâh Azza wa Jalla menerangkan tentang pengiriman bala bantuan dalam perang Badr. Pengiriman bala bantun ini menjadi prantara atau penyebab kemenangan yang diinginkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ

Dan Allâh tidak menjadikannya (maksudnya pengiriman bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya [al-Anfâl/8:10]

Allâh Azza wa Jalla mampu untuk memberikan kemenangan tanpa harus mengirimkan bala bantuan. Namun supaya ini menjadi isyarat kemenangan, maka bala bantuan dikirimkan. Jadi, pengiriman bala bantuan sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) bahwa kemanangan akan segera tiba, sehingga hati kaum Muslimin menjadi tenang dan keimanan mereka bertambah.

Dalam ayat lain, ketika menjelaskan tentang penyebab dan prantara datangnya rizki dan turunnya hujan, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ

Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; [ar-Rûm/30:46]

Rizki dan hujan termasuk tujuan yang diinginkan oleh manusia. Allâh Azza wa Jalla Yang Mahakuasa mampu mendatangkan itu semua tanpa prantara dan sebab. Namun Allâh Azza wa Jalla menjadikan sebab dan prantara bagi tujuan ini yaitu berupa tiupan angin. Allâh Azza wa Jalla meniupkan angin pertanda akan turun hujan itu sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) bahwa hujan akan segera turun dan tumbuh-tumbuhan akan menghijau, sehingga hati orang yang berharap mendapatkan rizki bisa tenang dan imannya akan bertambah.

Makna yang lebih umum dari dua ayat diatas yaitu busyra [1] yang ada dalam firman Allâh Azza wa Jalla:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴿٦٢﴾الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ﴿٦٣﴾لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allâh. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. [Yûnus/10:62-64]

Busyra maksudnya semua isyarat yang menunjukkan kepada mereka bahwa Allâh Azza wa Jalla menginginkan kebaikan buat mereka atau isyarat yang menunjukkan bahwa mereka adalah wali-wali Allâh Azza wa Jalla . Dengan demikian, pujian yang baik, mimpi yang bagus, kelembutan Allâh Azza wa Jalla yang bisa mereka saksikan, juga taufiq, kemudahan yang Allâh berikan serta terhindarkan dari berbagai kesulitan dan lain sebagainya, ini semua merupakan busyra atau mubassyirat (pembawa kabar gembira) sebelum mereka mendapatkan tujuan akhir yaitu surga dengan beragam kenikmatannya.

Termasuk prantara dari sebuah tujuan yang Allâh Azza wa Jalla jadikan sebagai isyarat kabar gembira namun jarang diketahui orang yaitu Allâh Azza wa Jalla menjadikan kesusahan atau kesulitan sebagai isyarat datangnya jalan keluar atau solusi. Jika kita perhatikan dan merenungi kisah para nabi dan kesulitan mereka, yang Allâh Azza wa Jalla ceritakan dalam al-Qur’ân, maka tentu akan mendapatkan suatu yang sangat memukau.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allâh?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allâh itu amat dekat. [al-Baqarah/2:214]

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴿٥﴾إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [as-Syarh/94:5-6]

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Allâh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [ath-Thalâq/65:7]

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan bersama kesabaran, dan sesungguhnya solusi itu bersama keusahan dan sesunggunya kemudahan it bersama kesulitan.[2]

Dan masih banyak contoh dari penerapan kaidah ini dalam al-Qur’an. Semoga ini bermanfaat.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di, halaman. )

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Karena ma’mulnya (apa yang menjadi obyeknya) tidak disebutkan, sehingga maknanya menjadi lebih umum
[2]. Riwayat Ahmad, 1/307; Abdun bin Hamid, al-Muntakhab 1/546-547; Ibnu Abi Ashim dalam as-sunnah, 1/137-139; al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 1043 dan al-Asma’ was Shifaat, hlm. 97 serta dalam al’I’tiqâd, hlm. 58-59; ath-Thabrani dalam al-Kabîr, no. 11243; al-Hâkim, 3/541-542; Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil, 7/2524-2525; al-Uqaili dalam ad-Dhu’afâ, 3/397-398; Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/314; al-Lalikaai dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlissunnah, 2/614; hadits ini juga dibawakan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’, 7/189-190. syaikh al-Albâni rahimahullah menilai hadits ini shahih. Lafazh diatas adalah potongan hadits yang berisi wasiat kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma sebagaimana dalam sebagian riwayat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s