AJARAN-AJARAN MADZHAB SYAFI’I YANG DILANGGAR OLEH SEBAGIAN PENGIKUTNYA 5 – KEYAKINAN BAHWA ALLAH DI ATAS LANGIT

Diantara aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –yang juga merupakan aqidah para as-Salaf as-Sholeh- bahwasanya Allah berada di atas langit.

Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i tentang Allah di atas telah diakui oleh para ulama Asy-Syafi’iyah diantaranya Imam Al-Baihaqi, Al-Imam Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji rahimahumullah.

Al-Baihaqi (wafat 458 H) –salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’iyah-  berkata :


“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdillah Al-Haafiz, ia berkata : Inilah naskah kitab yang didiktekan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyuub tentang madzhab Ahlus Sunnah, tentang apa yang terjadi antara Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah dengan para sahabatnya… dan ia menyebutkan diantaranya :

الرحمن على العرش استوى بلا كيف

Ar-Rahman berada di atas ‘Arsy tanpa ditanya bagaimananya. Dan atsar dari para salaf tentang yang seperti ini banyak. Dan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i radhiallahu ‘anhu menunjukkan berada di atas jalan ini, dan ini juga merupakan madzhab Ahmad bin Hanbal, dan Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bajali dan dari kalangan para ulama mutaakhirin adalah Abu Sulaiman Al-Khotthoobi” (Al-Asmaa’ wa as-Shifaat 2/308)

Pernyataan Imam Al-Baihaqi ini juga dinukil dan dikuatkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani –salah seorang ulama besar madzhab Syafi’iyyah-, ia berkata :

“Dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ahmad bin Abil Hawaari…dan dari jalan Abu Bakr Adl-Dhoba’i ia berkata : “Madzhab Ahlus Sunnah terhadap firman Allah “Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy’…” adalah tanpa ditanya bagaimananya. Dan atsar-atsar dari salaf banyak. Dan ini adalah jalan Al-Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal” (Fathul Baari 13/407)

Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya “Manaaqib Asy-Syaafi’i” juga menukil perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i tentang persyaratan budak mukmin yang bisa dimerdekakan sebagai kaffaaroh.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dan yang lebih aku sukai jika ia menguji sang budak tentang pengakuannya terhadap hari kebangkitan setelah kematian dan yang semisalnya”. Dan Al-Imam Asy-Syafii menyebutkan hadits Mu’aawiyah bin Al-Hakam, bahwasanya Ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang budak wanita yang ditampar olehnya, “Apakah wajib bagiku untuk membebaskan seorang budak?”. Maka Rasulullah bertanya kepada budak wanita tersebut, “Dimanakah Allah?”. Sang budak berkata, “Di langit”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah saya?”. Maka sang budak wanita berkata, “Anda adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Rasulullah berkata, “Bebaskan budak wanita ini” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/394)

Lihatlah dalam nukilan di atas ternyata Al-Imam Asy-Syafi’i menjadikan hadits tentang dimananya Allah sebagai dalil untuk menguji keimanan dan islamnya seorang budak, sehingga jika diketahui bahwa ia seorang budak muslimah maka bisa sah sebagai kaffarah pembebasan budak.

Setelah itu Al-Imam Al-Baihaqi mengomentari dengan berkata :

“Kemudian makna firman Allah dalam Al-Qur’an “Dzat yang di langit..” artinya adalah “Dzat yang di atas langit, di atas ‘Arsy, sebagaimana firman Allah “Allah beristiwaa’ di atas ‘Arsy”.

Dan seluruh perkara yang tinggi maka ia adalah samaa’/langit. Dan ‘Arsy adalah sesuatu yang tertinggi. Dan Allah berada di atas ‘Arsy –sebagaimana Allah kabarkan-, tanpa ditanya bagaimananya, terpisah dari makhlukNya dan tidak menyentuh makhlukNya

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat” (Manaaqib Asy-Syafi’i 1/397-398)

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- juga berkata :

روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله تعالى قال القول في السنة التي أنا عليها ورأيت عليها الذين رأيتهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء

“Syaikhul Islam Abul Hasan Al-Hikaari dan Al-Haafizh Abu Muhammad Al-Maqdisi meriwayatkan dengan sanad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, mereka berdua meriwayatkan dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i sang penolong hadits rahimahullah ia berkata :

“Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya dan aku melihat orang-orang yang aku lihat berada di atasnya seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka berdua yaitu mengakui syahadah Laa ilaaha illaallah dan Muhammad Rasulullah, dan bahwasanya Allah berada di atas ‘ArsyNya di langit, ia dekat dengan makhukNya sebagaimana yang Ia kehendaki dan ia turun ke langit dunia sebagaimana yang Ia kehendaki” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliy al-Goffaar hal 165 no 443, atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi wafat 620 H dalam kitabnya Itsbaat Sifat al-‘Uluw hal 180 no 92)

Riwayat dari Al-Imam Asy-Syafi’i ini sangat tegas menyatakan akan Allah berada di atas langit. Atsar ini ternyata diriwayatkan dari banyak jalur oleh para ulama, diantaranya oleh murid Al-Imam Asy-Syafi’i yaitu Al-Imam Al-Muzani.

Al-Barzanji (wafat 1103 H) –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- berkata

“Asy-Syafi’iyah berkata –sebagaimana telah meriwayatkan dari beliau, yaitu Yunus bin Abdil A’la, Ibnu Hisyaam Al-Baladi, Abu Tsaur, Abu Syu’aib, Harmalah, Ar-Robi’ bin Sulaiman, dan Al-Muzaniy, serta selain mereka- hadits mereka saling bercampur dan dibawakan riwayat-riwayat mereka dalam satu konteks :

“Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya….”

“Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy berdasarkan firman Allah

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia beristiwaa di atas ‘Arsy”

Dan juga firman Allah

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy”

Dan bahwasanya Allah turun setiap malam ke langit dunia sebagaimana yang Allah kehendaki berdasarkan pengkabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu, dan aku beriman terhadap melihat Allah sebagaimana datang dalam hadits”

(Aqidah Al-Imaam Nashir Al-Hadiits wa As-Sunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i hal 89-91)

Diantara para ulama syafi’iyah yang mengikuti aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang Allah di atas langit selain Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji adalah :

Pertama : Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H),

Beliau adalah ulama besar madzhab Syafi’iyah, sampai-sampai Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Majmuu’ berulang-ulang menyebut gelar beliau dengan Imaamul A’immah (Imamnya para imam). Diantaranya An-Nawawi berkata

‘Dan telah kami riwayatkan dari Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaq ibn Khuzaimah, yang ma’ruuf (dikenal) dengan imaamul a’immah/imamnya para imam. Dan beliau telah mencapai puncak yang tinggi dalam menghafal hadits dan mengenal sunnah” (Al-Majmuu’ 1/28). Demikian pula As-Subkiy menyebutnya sebagai Al-Mujtahid Al-Mutaq (Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 3/109). Dan masih banyak sanjungan para ulama terhadap Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah. (Silahkan lihat biografi beliau di Siyar A’laam An-Nubalaa 14/365-383 dan Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubro karya As-Subki 3/109-119)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

وقالت عائشة رضي الله عنها :”سبحان من وسع سمعه الأصوات”، فسمع الله -جل وعلا- كلام المجادلة، وهو فوق سبع سموات مستو على عرشه وقد خفي بعض كلامها على من حضرها وقرب منها

“Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Maha suci Allah yang pendengaranNya meliputi semua suara”. Maka Allah mendengar perkataan sang wanita yang mengajukan gugatan, padahal Dia berada di atas langit yang tujuh beristiwa di atas ‘arsyNya. Sementara terluputkan sebagian perkataannya pada orang yang hadir dihadapannya atau yang dekat denganya” (Kitaab At-Tauhiid wa Itsbaat Sifaat Ar-Robb ‘Azza wa Jalla,  1/107, tahqiq : DR Abdul Aziz Syahwaan)

Beliau mengomentari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

وإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس، فإنه وسط الجنة، وأعلا الجنة وفوقه عرش الرحمن، ومنه تفجر أنهار الجنة

“Dan jika kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah bagian tengah surga dan yang paling tertinggi. Dan diatasnya ada ‘Arsy nya Ar-Rahman, dan darinya mengalir sungai-sungai surga” (Shahih Al-Bukhari), beliau berkata :

فالخبر يصرح أن عرش ربنا –جل وعلا- فوق جنته، وقد أعلمنا – جل وعلا- أنه مستو على عرشه، فخالقنا عال فوق عرشه الذي هو فوق جنته

“Maka kabar riwayat hadits ini jelas menunjukkan bahwasanya ‘Arsy Robb kita berada di atas surganya, dan Allah telah mengabarkan kepada kita bahwasanya Ia beristiwaa’ di atas ‘ArsyNya. Maka pencipta kita tinggi di atas ‘arsyNya yang berada di atas surgaNya” (Kitaab At-Tauhiid 1/241)

Beliau juga berkata :

“Maka hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa Pencipta berada di atas langit yang tujuh. Hal ini tidak sebagaimana yang dipersangkakan oleh Al-Mu’atthilah (pala penafi/penolak sifat-sifat Allah-pen) bahwasanya sesembahan mereka bersama mereka di rumah-rumah mereka” (Kitaab At-Tauhiid 1/273)

Kedua :  Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub As-Shubgi Asy-Syaafi’i (wafat 342 H)

Beliau berkata :

قد تضع العرب «في» بموضع «على» قال الله عز وجل): فسيحوا في الأرض)، وقال : (لأصلبنكم في جذوع النخل) ومعناه: على الأرض وعلى النخل، فكذلك قوله): في السما)ء أي على العرش فوق السماء، كما صحت الأخبار عن النبي صلى الله عليه وسلم)

“Terkadang orang Arab meletakkan kata “fi” pada posisi “alaa”. Allah berfirman :

فسيحوا في الأرض

“Berjalanlah kalian di atas muka bumi”.

Allah berfirman :

لأصلبنكم في جذوع النخل

“Sungguh aku akan menyalib kalian di atas pangkal pohon kurma” (QS Toohaa : 71)

Demikian pula firman Allah “في السماء” maknanya adalah di atas ‘Arsy di atas langit, sebagaimana telah shahih hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Asmaa wa As-Shifaat, karya Al-Baihaqi, tahqiq : Abdullah Al-Haasyidi 2/324)

Ketiga : Abu ‘Utsmaan As-Shoobuuni Asy-Syaafi’i (wafat 449 H).

Al-Baihaqi telah memuji beliau dengan berkata :

إمام المسلمين حقا وشيخ الإسلام صدقا وأهل عصره كلهم مذعنون لعلو شأنه في الدين والسيادة وحسن الإعتقاد وكثرة العلم ولزوم طريقة السلف

“Imam kaum muslimin yang sesungguhnya, Syaikhul Islam yang sebenarnya, dan para manusia sezamannya seluruhnya tunduk karena ketinggiannya dalam agama dan kepemimpinan, dan baiknya aqidahnya, banyaknya ilmunya, serta konsisten beliau di atas jalan salaf” (Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 4/283)

Beliau berkata dalam kitabnya Aqidatus Salaf Ashaabil Hadiits :

“Dan Ashaabul hadits meyakini dan bersaksi bahwasanya Allah subhaanahu di atas langit yang tujuh, beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana diebutkan dalam kitab-Nya…” (Aqidatus Salaf hal 175, lalu beliau menyebutkan dalil-dalil yang menunjukan ketinggian Allah)

Keempat : Al-Baghowiy, Abu Muhammad Husain bin Mas’uud Asy-Syaafi’i (wafat 516 H), penulis kitab-kitab yang masyhuur, seperti Ma’aalim At-Tanziil (yang dikenal dengan Tafsiir Al-Baghowiy), At-Tahdziif fi fiqhi Al-Imaam Asy-Syaafi’i, Syarh As-Sunnah, dan Mashoobiihus Sunnah.

As-Suyuuthi berkata tentang Al-Baghowi,

كان إمامًا في التفسير، إمامًا في الحديث، إمامًا في الفقه

“Beliau adalah imam dalam ilmu tafsir, imam dalam ilmu hadits, dan imam dalam ilmu fikih” (Tobaqoot Al-Mufassiriin hal 38)

Ibnu Qoodi Syahbah (wafat 851 H) dalam kitabnya Tobaqoot Asy-Syafi’iyyah berkata tentang Al-Baghowi

وكان دينًا، عالمًا، عاملًا على طريقة السلف

“Beliau adalah seorang yang ta’at beragama, seorang alim, dan seorang yang beramal di atas jalannya salaf” (Tobaqoot Asy-Syafi’iyah 1/281)

Al-Baghowi rahimahullah berkata dalam tafsir beliau:

وأولت المعتزلة الاستواء بالاستيلاء، وأما أهل السنة فيقولون: الاستواء على العرش صفة لله تعالى، بلا كيف، يجب على الرجل الإيمان به، ويكل العلم فيه إلى الله عز وجل

“Kaum mu’tazilah mentakwil sifat al-istiwaa’ dengan al-istilaa’ (menguasai), adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, “Beristiwaa di atas ‘arsy merupakan sifat Allah, tanpa ditanyakan bagaimananya, wajib bagi seseorang untuk beriman akan hal ini dan menyerahkan ilmu bagaimananya kepada Allah” (Tafsiir Al-Baghowi 3/235)

Kelima : Abul Qoosim Ismaa’iil Al-Ashbahaani Asy-Syaafi’i (wafat 535 H)

Beliau berkata dalam kitab beliau “Al-Hujjah fi bayaan Al-Mahajjah”

فصل في بيان أن العرش فوق السموات، وأن الله عز وجل فوق العرش

“Pasal : Penjelasan bahwa ‘arsy di atas langit dan bahwasanya Allah azza wa jalla di atas ‘arsy” (Al-Hujjah bi Bayaan Al-Mahajjah 2/83)

Keenam : Adi bin Musaafir Al-Hakaari Asy-Syaafi’i (wafat 555 H).

Beliau berkata di kitabnya:

وأن الله على عرشه، بائن من خلقه، كما وصف نفسه في كتاب وعلى لسان نبيه بلا كيف، أحاط بكل شيء علمًا وهو بكل شيء عليم، قال تعالى {الرحمن على العرش استوى

“Sesungguhnya Allah di atas ‘arsyNya, terpisah dari makhlukNya sebagaimana Ia telah mensifati diriNya dalam al-Kitab dan melalui lisan NabiNya tanpa (menyebutkan) bagaimananya. Ilmunya meliputi segala sesuatu dan Ia mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman :

الرحمن على العرش استوى

“Ar-Rahman beristiwaa di atas ‘arsy” (“I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah” hal 30)

Ketujuh : Yahya Al-‘Imraani Asy-Syaafi’i (wafat 558 H)

Beliau berkata :

عند أصحاب الحديث والسنة أن الله سبحانه بذاته، بائن عن خلقه، على العرش استوى فوق السموات، غير مماس له، وعلمه محيط بالأشياء كلها

“Di sisi ahlul hadits dan sunnah bahwasanya Allah dengan dzatNya terpisah dari makhlukNya, beristiwa di atas ‘arsynya di atas langi-langit, tanpa menyentuhnya, dan ilmunya meliputi segala sesuatu” (Al-Intishoor fi Ar-Rod ‘alaa al-Qodariyah al-Asyroor 2/607

Kedelapan : Ibnu As-Solaah Asy-Syafi’i (wafat 643 H)

Beliau telah mengomentari qosidah tentang sunnah yang disandarkan kepada Abul Hasan Al-karkhi (wafat 532 H)

Qosidah tersebut diantaranya :

عقيدة أصحاب الحديث فقد سمت *** بأرباب دين الله أسنى المراتب
عقائدهم أن الإله بذاته *** على عرشه مع علمه بالغوائب

Aqidah ashaabul hadits telah membawa para pemeluk agama ke derajat yang tinggi

Aqidah mereka bahwasanya Allah dengan dzatNya di atas ‘arsyNya, disertai ilmuNya tentang perkara-perkara ghaib

Ibnu As-Sholaah mengomentari qoshidah tersebut dengan berkata, هذه عقيدة أهل السنة وأصحاب الحديث “Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah dan Ashaabul hadiits” (Kitaab al-‘Arsy, karya Adz-Dzhabiy 2/342)

Inilah aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya dari para pendahulu ulama syafi’iyah bahwasanya Allah berada di atas langit. Akan tetapi aqidah ini banyak diselisihi oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i, bahkan memusuhi dan menyesatkan aqidah keberadaan Allah di atas langit.

Padahal aqidah Allah tidak di atas langit merupakan aqidah yang dipelopori dan diperjuangkan oleh kaum jahmiyah. Karenanya banyak para ulama salaf yang mengingkari keyakinan jahmiyah ini.

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الأَوْسِي : سَمِعْتُ وَهْبَ بْنِ جَرير يَقُوْلُ : إِنَّمَا يُرِيْدُ الْجَهْمِيةُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ

Abu Abdillah Al-Ausi berkata, “Aku mendengar Wahb bin Jarir berkata :”Sesungguhnya Jahmiyah menginginkan bahwasanya tidak ada di atas langit sesuatupun” (Itsbaat sifat Al-‘Uluw 118)

قال الأثرم : وَقُلْتُ لِسُلَيْمَانَ بْنِ حَرْبٍ أَيُّ شَيْءٍ كَانَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ يَقُوْلُ فِي الْجَهْمِيَّةِ؟ فَقَالَ : كَانَ يَقُوْلُ :إِنَّمَا يُرِيْدُوْنَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ

Al-Atsrom berkata, “Dan aku berkata kepada Sulaiman bin Harb, “Apakah yang dikatakan oleh Hammad bin Salamah tentang Jahmiyah?, maka ia berkata, “Hammad berkata : Mereka (Jahmiyah) hanyalah menginginkan bahwasanya tidak ada sesuatupun di atas langit ” (Al-Ibaanah li Ibni Batthoh 3/194 dan As-Sunnah li Abdillah bin Ahmad 1/118 dan Itsbaat sifat Al-‘Uluw 118)

يقول جرير بن عبدالحميد : كلامُ الجهمية أَوَّلُهُ عَسلٌ وَآخِرُهُ سُمٌّ وَإِنَّمَا يُحَاوِلُوْنَ أَنْ يَقُوْلُوْا لَيْسَ فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ

Jarir bin Abdil Hamiid berkata, “Perkataan Jahmiyah awalnya adalah madu dan akhirnya adalah racun, mereka hanyalah berusaha untuk mengatakan bahwasanya tidak ada Tuhan di atas langit” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-Goffaar 149)

عَنِ ابْنِ الْمُبَارَك قَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمن قَدْ خِفْتُ اللهَ مِنْ كَثْرَةِ مَا أَدْعُو عَلَى الْجَهْمِيَّةِ، قَالَ : لاَ تَخَفْ فَإِنَّهُمْ يَزْعُمُوْنَ أَنَّ إِلَهَكَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ لَيْسَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnul Mubaarok  berkata, “Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdirrohman, aku takut kepada Allah karena sering mendoakan kejelekan bagi Jahmiyah !”, Ibnul Mubaarok berkata, “Jangalah kau kawatir sesungguhnya mereka menyangka bahwa Tuhanmu yang berada di atas langit bukanlah sesuatu apapun” (Al-Ibaanah li Ibni Batthoh 3/195, As-Sunnah li Abdillah bin Ahmad 1/112 no 24)

عن عبدالحمن بن مهدي وقيل له : إن الجهمية يقولون : إن القرآن مخلوق ، فقال : إن الجهمية لم يريدوا ذا ، وإنما أرادوا أن ينفوا أن يكون الرحمن على العرش استوى ، وأرادوا أن ينفوا أن يكون الله تعالى كلم موسى ، وقال الله تعالى : {وكلم الله موسى تكليما} وأرادوا أن ينفوا أن يكون القرآن كلام الله تعالى ، أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dikatakan kepada beliau : “Sesungguhnya Jahmiyah berkata sesungguhnya Al-Qur’an adalah makhluq”, maka Abdurrahman bin Mahdi berkata : “Mereka Jahmiyah bukanlah menghendaki hal ini, akan tetapi mereka ingin untuk menafikan bahwasanya Ar-Rohman (Allah) beristiwa di atas ‘arsy, dan mereka menghendaki untuk menafikan bahwasanya Allah telah berbicara dengan Musa padahal Allah berfirman “Dan Allah telah berbicara kepada Musa” (QS An-Nisaa :164), dan mereka menghendaki untuk menafikan bahwasanya Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Aku memandang mereka hendakya dimintai tobat, jika mereka bertaubat (maka baik), akan tetapi jika mereka tidak bertaubat maka dipukul leher mereka” (Al-Asmaa wa As-Sifaat li Al-Baihaqi 1/608 no 546 dan Al-‘Uluw li Adz-Dzahabi 159 no 434)

عن سعيد ابن عامر الضبعي أنه ذكر الجهمية فقال : هم شر قولا من اليهود والنصارى، قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس عليه شيء

Dari Sa’iid bin ‘Aamir Ad-Dhoba’iy bahwasanya beliau menyebutkan tentang Jahmiyah maka beliau berkata : “Perkataan mereka (Jahmiyah) lebih buruk dari perkataan kaum Yahudi dan kaum Nashrani, sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashrani serta seluruh pemeluk agama-agama telah bersepakat dengan kaum muslimin atas bahwasanya Allah Azza wa Jalla berada di atas ‘arsy, sementara Jahmiyah berkata bahwasanya tidak ada sesuatupun di atas ‘arys” (Al-‘Uluw li Adz-Dzahabi 158 no 430)

Dan masih banyak pernyataan para imam Islam dari kalangan salaf tentang bantahan dan celaan terhadap kelompok Jahmiyah.

Para ulama telah memberi perhatian khusus dalam membantah firqoh Jahmiyah seperti Imam Ahmad dalam kitabnya “Ar-Rod ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanaadiqoh, Utsamaan bin Sa’iid Ad-Darimi dalam kitabnya “Ar-Rod ‘ala al-Jahmiyah” dan “Ar-Rod ‘Ala Bisyr Al-Mariisi”, demikian juga Ibnu Quthaibah (wafat 276) dalam kitabnya “Al-Ikhtilaaf fi al-Lafz wa Ar-Rod ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Musyabbihah”, Ibnu Bathhoh (wafat 387) dalam kitabnya “Al-Ibaanah” dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lain yang telah ditulis oleh para ulamaa mutaqoddimiin untuk membantah ahlul bid’ah.

Bahkan para ulama hadits yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi juga membantah pemahaman Jahmiyah ini. Seperti Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya berkata كتاب الرد على الجهمية “Kitab bantahan terhadap Jahmiyah” (dan judul seperti ini terdapat dalam shahih Al-Bukhari dalam riwayat Al-Mustamli, dan juga terdapa pada nuskhoh Ibnu Battol dan Ibnu At-Tiin, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/344)

Dan dalam kitab tersebut Imam Al-Bukhari membawakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langitsebagai bantahan kepada aqidah Jahmiyah yang mengingkari adanya Allah di atas langit. Imam Al-Bukhari berkata :

باب قول الله تعالى {تعرج الملائكة والروح إليه} وقوله جل ذكره {إليه يصعد الكلم الطيب} وقال أبو جمرة عن ابن عباس بلغ أبا ذر مبعث النبي صلى الله عليه وسلم فقال لأخيه أَعْلِمْ لِي عِلْمَ هذا الرجلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ يَأْتِيْهِ الْخَبَرُ مِنَ السَّمَاءِ

“Bab firman Allah Ta’aala “Para malaikat dan Jibril naik ke Allah” (QS Al-Ma’aarij :4), dan firman Allah “Kepada Allah lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan sholeh dinaikkanNya” (QS Faathir : 10). Dan Abu Hamzah berkata, “Dari Ibnu Abbaas : Bahwasanya tatkala kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad sampai kepada Abu Dzar maka Abu Dzar –radhiallahu ‘anhu- berkata kepada saudaranya : Kabarkanlah kepadaku tentang ilmu orang ini (yaitu Nabi Muhammad) yang menyangka bahwasanya telah datang kepadanya khabar dari langit !” (Shahih Al-Bukhari 9/126)

Pendalilan Imam Al-Bukhari ini telah diisyaratkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam perkataannya:

حديث أخرجه البخاري في كتاب الرد على الجهمية من صحيحه في باب قوله إليه يصعد الكلم الطيب عن ابن عباس قال بلغ أبا ذر مبعث النبي فقال لأخيه أعلم لي علم هذا الرجل الذي يزعم أنه يأتيه الخبر من السماء

“Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab shahihnya, yaitu pada Bab firman Allah Ta’aala “Kepada Allah lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan sholeh dinaikkanNya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-Goffaar)

Al-Imam Abu Dawud juga membantah Jahmiyah yang mengingkari bahwasanya Allah berada di atas langit, beliau berkata باب فِى الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ “Bab : Bantahan kepada Jahmiyah”, lalu beliau membawakan hadits yaitu

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ »

“Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Rob kita turun ke langit dunia setiap malam tatkala tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Ia berkata, “Siapakah yang berdoa kepadaKu maka Aku akan kabulkan permintaannya, barang siapa yang meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, dan barang siapakah yang memohon ampunanku maka Aku akan mengampuninya” (Sunan Abi Daawud no 4735)

Hadits tentang nuzul (turunya) Allah ke langit dunia menunjukkan bahwasanya Allah berada di atas langit, yang dijadikan dalil oleh Imam Abu Dawud untuk membantah Jahmiyah yang mengingkari bahwa Allah di atas langit.  Ibnu Maajah dalam sunannya membawakan satu bab yang berjudul بَاب فِيمَا أَنْكَرَتْ الْجَهْمِيَّةُ “Perkara-Perkara Yang Diingkari Oleh Al-Jahmiyyah”, Imam At-Tirmidzi juga dalam sunannya membantah Al-Jahmiyyah yang menolak hadits-hadits sifat, demikian juga At-Thobrooni dalam “Al-Mu’jam Al-Kabiir” berkata بَابُ بَيَانِ كُفْرِ الْجَهْمِيَّةِ الضُّلالِ بِرُؤْيَةِ الرَّبِّ عز وجل في الْقِيَامَةِ “Bab Tentang Penjelasan Kafirnya Al-Jahmiyyah Yang Sesat Terhadap Melihat Allah Pada Hari Kiamat”

Lalu perjuangan para ulama tersebut diteruskan oleh para ulama abad ke delapan seperti Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Bayaan talbiis Al-Jahmiyyah”, dan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya “As-Sowaaiq Al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Mu’atthilah”.

1.      Dalil bahwasanya Allah berada di atas

Dalil yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit di atas seluruh makhlukNya sangatlah banyak. Dalil-dalil tersebut terbagi dalam berbagai sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di antaranya:

Pertama: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“ dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An’aam:18).

Kedua:  Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

 “Dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).

Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:

فأعْلمَنا الجليلُ جلَّ وعلا في هذهِ الآيةِ أنَّ ربَّنا فوقَ ملائكتهِ، وفوقَ ما في السَّماواتِ وما في الأرضِ مِنْ دَابَّةٍ، وأَعْلَمَنا أنَّ ملائكتَهُ يخافونَ ربَّهم الذي فوقهم

“Maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).

Sisi pendalilan yang kedua ini juga sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:

لقدْ حَكَمَ فيهمُ اليومَ بحُكْمِ اللهِ الذي حَكمَ بهِ مِنْ فوقِ سبعِ سماواتٍ

“ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556).

Jika ada yang berkata : ((Al-Hâfizh Ibn al-Jauzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh, dalam penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fauqo ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fauqo biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fauqo Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua (B), bukan artinya si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua. Kemudian, firman Allah dalam ayat tersebut menyebutkan “Fauqo ‘Ibaadih”, artinya, sangat jelas bahwa makna yang dimaksud bukan dalam pengertian arah. Karena bila dalam pengertian arah, maka berarti Allah itu banyak di atas hamba-hamba-Nya, karena ungkapan dalam ayat tersebut adalah “’Ibaadih” (dengan mempergunakan kata jamak)“ (Daf’u Sybah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzih, h. 23).

Maka saya katakan : Memang benar bahwasanya “Penggunaan kata fauqo biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fayqo Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua”, akan tetapi:

–         Hal ini tidaklah menafikan bahwasanya Allah juga lebih tinggi secara dzatnya di atas makhluknya. berdasarkan ayat-ayat yang lain. karena tatkala kita mengatakan bahwasanya Allah Maha Tinggi, yaitu maha tinggi dari sisi keagungan dan juga maha tinggi dari sisi dzatnya.

–         Jika ditafsirkan “Allahu Fauqo ‘Ibaadihi” (Allah di atas hamba-hambaNya) maksudnya adalah “Allah lebih tinggi derajatnya dari pada hamba-hambNya” sebagaimana dikatakan “Emas di atas perak” (Emas lebih tinggi derajatnya dari pada perak”, maka pada hekekatnya hal ini merupakan bentuk perendahan kepada Allah. Karena ungkapan seperti ini hanya cocok dalam membandingkan dua perkara atau dua dzat yang berdekatan kedudukannya. Seperti kita katakan : “Imam Bukhari di atas Imam Muslim”, atau “Abu Bakar di atas Umar”, atau “Emas di atas perak”. Akan tetapi jika ungkapan seperti ini digunakan untuk membandingkan dua dzat yang sangat jauh perbedaannya maka ini merupakan bentuk perendahan bagi dzat yang lebih tinggi kedudukannya. Jika kita berkata “Emas di atas kulit bawang”, maka ini merupakan perendahan terhadap derajat emas. Akan tetapi jika kita katakan “Emas di atas perak” maka ini tentunya mengangkat derajat emas. Sebagaimana jika kita berkata, “Imam As-Syafii di atas tukang sol sepatu dalam ilmu fiqh” maka ini perendahan terhadap Imam As-Syafi’i, akan tetapi jika kita berkata, “Imam As-Syafi’i di atas Imam Ahmad dalam ilmu fiqh” maka ini mengangkat derajat Imam As-Syafii.

Sungguh benar perkataan seorang penyair

أَلَمْ تَرَ أَنَّ السَّيْفَ يَنْقُصُ قَدْرُهُ  إِذَا قِيْلَ إِنَّ السَّيْفَ أَمْضَى مِنَ الْعَصَا

Tidakkah engkau lihat bahwasanya pedang akan berkurang kemuliaannya jika dikatakan bahwasanya “Pedang lebih tajam dari pada tongkat”

Tentunya merupakan bentuk perendahan kepada Allah jika kita berkata “Allah lebih tinggi derajatnya dari pada hamba-hambaNya” kerena tentunya tidak akan pantas jika kita membandingkan Allah yang maha sempurna dengan makhluk yang maha membutuhkan.

Allah sama sekali tidak pernah memuji dirinya dalam Al-Qur’an atau melalui lisan NabiNya dalah hadits-hadits dengan menyatakan bahwanya Allah lebih mulia dari pada ‘Arsy, atau Allah lebih afdhol dari pada langit, kursyi dan ‘arsy.

Perbandingan seperti ini hanya ada dalam Al-Qur’an tatkala Allah membantah orang-orang yang melakukan kesyirikan, yang menyembah Allah dan juga menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Maka Allahpun menyatakan bahwa Allah lebih baik daripada tuhan-tuhan tersebut. Sebagaimana dalam firmanNya :

آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (٥٩)

“Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” (QS An-naml : 59)

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (٣٩)

Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? (QS Yusuf : 39)

–         Perkataan “fulan fauqo fulan” mungkin bisa membawa makna yang antum sebutkan, akan tetapi jika dikatakan “fulan min fauqi fulan” maka tidak bisa dibawakan kecuali kepada makna posisi. Allah berfirman dalam Al-Qur’aan

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

Mereka -yaitu para malaikat- takut kepada Rob Mereka dari atas mereka”. (QS An-Nahl ayat 50).

Dan dalam bahasa Arab jika dikatakan “min fauqi…” tidak bisa menunjukkan makna kadar akan tetapi maknanya di atas dari segi posisi”.

Dan uslub seperti ini banyak dalam Al-Qur’an, sebagai contoh :

فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ

lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, (QS An-Nahl 26)

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka (QS Al-‘Ankabuut : 55)

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). (Az-Zumar :16)

–         Jika dalil وهو القاهر فوق عباده tidak menunjukkan ketinggian posisi Dzat Allah, maka masih terlalu banyak dalil-dalil yang lain yang menunjukkan akan ketinggian posisi Allah, sebagaimana berikut ini.

Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, amal sholih) menuju Allah. Lafadz ‘naik’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Hadits bisa berupa al-‘uruuj atau as-Shu’uud.

Seperti dalam firman Allah:

مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (3) تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

 “ dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. Malaaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “ (Q.S al-Ma’aarij:3-4).

Mujahid (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil Ma’aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari).

Dalam hadits disebutkan:

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الْعَصْرِ وَصَلاَةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ – وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِم – فَيَقُولُ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“ Bergantian menjaga kalian Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul pada sholat ‘Ashr dan Sholat fajr. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, sehingga Allah bertanya kepada mereka –dalam keadaan Dia Maha Mengetahui- Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hambaKu? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka dalam keadaan sholat” (H.R Al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Khuzaimah menyatakan: “ Di dalam khabar (hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah ‘Azza Wa Jalla di atas langit dan bahwasanya para Malaikat naik menujuNya dari bumi. Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu’aththilah (penolak Sifat Allah) (Lihat Kitabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 381)

Seperti juga firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“ kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal sholih dinaikkannya” (Q.S Fathir:10).

Disebutkan pula dalam hadits:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ، مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: «ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

Dari Usamah bin Zaid –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat shaummu di bulan lain sebagaimana engkau shaum pada bulan Sya’ban? Rasul bersabda: Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya antara Rajab dengan Ramadlan. Itu adalah bulan terangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku terangkat dalam keadaan aku shaum (puasa)(H.R AnNasaa-i dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: «إِنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ لاَ يَنَامُ، وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْل

Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah berdiri di hadapan kami dengan menyampaikan 5 kalimat (di antaranya) beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya, terangkat (naik) kepadaNya amalan pada malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari…”(H.R Muslim)

Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah.

Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:

{بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ} [النساء: 158]

“ Bahkan Allah mengangkatnya kepadaNya” (Q.S AnNisaa’:158).

{إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ} [آل عمران: 55]

“ Sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaKu” (Q.S Ali Imran:55).

Kelima: Penjelasan tentang ketinggian Allah secara mutlak

Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:

{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} [البقرة: 255[

“ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Q.S al-Baqoroh:255)

{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [سبأ: 23]

” dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S Saba’:28)

Keenam: Penjelasan bahwa Al-Qur’an ‘diturunkan’ dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dariNya. Tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya:

{تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ *} [الزمر: 1]

“Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1).

{تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ *} [فصلت: 2]

“ (AlQur’an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2)

{تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ} [فصلت: 42]

“ (Al Qur’an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42).

Ketujuh: Penjelasan tentang kekhususan sebagian makhluk di ‘sisi’ Allah (‘indallaah) yang menunjukkan bahwa sebagian lebih dekat dibandingkan yang lain kepada Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an, di antaranya:

{…فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لاَ يَسْأَمُونَ} [فصلت: 38]

“…maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu”(Q.S Fushshilat:38).

{وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُونَ *} [الأنبياء: 19]

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (Q.S Al-Anbiyaa’:19).

{رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ} [التحريم: 11]

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di Jannah”(Q.S AtTahriim:11)

Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:

{أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ *أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ *} [الملك: 16 – 17]

“ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17).

Yang dimaksud dengan ‘Yang berada di atas langit’ sesuai ayat tersebut adalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Karena Allahlah Yang Maha Mampu menjungkir balikkan manusia bersama bumi yang dipijaknya tersebut serta menenggelamkan mereka di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan ayat-ayat yang lain, di antaranya:

{أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا} [الإسراء: 68]

“Maka apakah kamu merasa aman dari Yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil?”(Q.S al-Israa’:68)

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ

“Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”(Q.S AnNahl:45).

Disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ الْمَلاَئِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا، قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ. اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَان. فَلاَ يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: فُلاَنٌ. فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ. ادْخُلِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ. فَلاَ يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللهُ عزَّ وجلَّ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang akan meninggal dihadiri oleh para Malaikat. Jika ia adalah seorang yang sholih, maka para Malaikat itu berkata: ‘Keluarlah wahai jiwa yang baik dari tubuh yang baik’. Keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan rauh dan rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus dikatakan hal itu sampai keluarlah jiwa (ruh) tersebut. Kemudian diangkat naik ke langit, maka dibukakan untuknya dan ditanya: Siapa ini? Para Malaikat (pembawa) tersebut menyatakan: Fulaan. Maka dikatakan: Selamat datang jiwa yang baik yang dulunya berada di tubuh yang baik. Masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan Rauh dan Rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus diucapkan yang demikian sampai berakhir di langit yang di atasnya Allah Azza Wa Jalla” (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Bushiri menyatakan dalam Zawaaid Ibnu Majah: Sanadnya sahih dan perawi-perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).

Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz في  tidak hanya berarti di ‘dalam’, tapi juga bisa bermakna ‘di atas’. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat:

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ…

“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di atas bumi selama empat bulan…” (Q.S AtTaubah:2).

Dalam ayat itu disebutkan makna في الأرض  sebagai ‘di atas bumi’ bukan ‘di dalam bumi’. Karena itu makna في السماء  artinya adalah ‘di atas langit’ bukan ‘di dalam langit’.

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ! يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“ Tidakkah kalian mempercayai aku, padahal aku kepercayaan dari Yang Berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku khabar langit pada waktu pagi dan sore” (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Disebutkan pula dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ. ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Dari Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhumaa beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Ar-Rahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian Yang ada di atas langit (Allah) (H.R atTirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albaany).

Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.

Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:

فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟»، قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: «مَنْ أَنَا؟»، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ

“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:

وإنما احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة الكافرة بهذا الخبر ، لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه ، وفوق سبع سماواته على عرشه ، كما معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة ، سلفهم وخلفهم ، إذ كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به . وقد أخبرنا الحاكم أبو عبد الله رحمه الله قال أنبأنا الإمام أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه قال حدثنا إبراهيم بن محمود قال سمعت الربيع بن سليمان يقول سمعت الشافعي رحمه يقول : إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب

Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi’ bin Sulaiman berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah pergi.

Jika ada yang bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud ucapan Imam Asy-Syafi’i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i (sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’). Imam Al-Baihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny:

إمام المسلمين حقا، وشيخ الاسلام صدقا

“Imam kaum muslimin yang hak, dan Syaikhul Islam yang sebenarnya”(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 18 halaman 41).

Kesepuluh: Penjelasan bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Lafadz istiwa’ diikuti dengan penghubung على  sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada 8 tempat pada surat: Al-A’raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, Ar-Ra’d:2, Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi.

Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:

وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)”(H.R Muslim).

Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas

Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:

اسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berteriak kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).

عنْ سلمانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله حَيِيٌّ كريمٌ، يَسْتَحْيِي إذا رَفَعَ الرَّجُلُ إليهِ يَدَيْهِ أن يَرُدَّهُما صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Dari Salman –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulia. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).

Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya

Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ البجليِّ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ ليلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هذَا لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Keempatbelas: Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.

عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).

Kelimabelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «… أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ. فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ. قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي. فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا. فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عليه السلام حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ. فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً… قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ»

Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).

Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:

{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]

“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).

{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 – 15]

“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulia” (Q.S alBuruuj:14-15).

{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]

“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).

Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.

عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ، وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).

Ketujuhbelas: Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:

{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ *} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,( yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).

Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)).

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:

“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).

Kedelapanbelas: Penyucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.

Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:

“Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati bahwa segala sifat rendah adalah tercela. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29) (Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).

Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).’Illiyyin adalah langit ke tujuh… Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7) Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).

Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.

 

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 23-10-1434 H / 30 Agustus 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s