Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana ?

SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MEMILIKI MANHAJ ILMIYAH

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Ketiga dari Empat Tulisan [3/4]

Pertama.
Pandangan mereka bahwa madzhab Salaf lebih selamat dan madzhab kholaf lebih ilmiyah dan lebih bijaksana.

Dibawah ini bantahan pandangan yang benar-benar menyesatkan ini dimana akan dibantah dari beberapa aspek :

[1]. Orang-orang khalaf telah memisahkan antara keselamatan ilmu dan hikmah, bukankah ilmu dan hikmah itu asas sendi keselamatan yang berjalan diatas kendaraan ilmu dan bermuara pada hikmah ? maka bagaimana akal mereka membenarkan perbedaan antara sebab dan akibatnya ? Sungguh ini satu yang mustahil.

[2]. Bagaimana orang-orang khalaf lebih mengerti Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sebaik-baik manusia, dan keutamaan tersebut hanya ada pada ilmu dan hikmah.

[3]. Ilmu dan hikmah apa saja yang ada di madzhab yang para pemimpinnya berlepas diri darinya dan mengumumkan kesalahan dan penyimpangannya, mengakui bahwa diri mereka dalam keadaan bingung serta meyesal atas semua yang mereka miliki dan kedepankan dalam hak Allah dan RasulNya serta salaf umat ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memuat pernyataan mereka dalam Al-Aqidah Al-Hamawiyah 1/428 lalu berkata : Bagaimana mereka muta’akhirin lebih baik apalagi isyarat istilah kholaf menunjukkan (mereka berasal) dari ahlil kalam (Mutakalimin) yang banyak terjadi pada mereka kebimbangan dan hijab mereka dari mengenal Allah cukup tebal serta pakar mereka yang telah mengakhiri petualangan (dalam ilmu kalam) mengkhabarkan hasil yang dicapainya, dengan menyatakan :

Demi Allah, saya telah mengarungi seluruh perguruan

Dan saya lemparkan pandanganku diantara ilmu-ilmu kalam

Tidaklah saya dapati kecuali meletakkan telapak kebingungan

Pada dagu atau menerima hari-hari penyesalan

Dan merekapun mengakui kesalahan apa yang mereka katakan dalam rangka melaksanakan atau memulainya pada buku-buku yang mereka karang, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka :

Akhir dari jejak-jejak akal hanyalah ikat kepala

Dan kebanyakan usaha makhluk adalah kesesatan

Jiwa kita liar di dalam tubuh kita

Dan hasil dunia kita adalah siksaan dan musibah

Kita tidak mendapat hasil dari penelitian seumur hidup

Kecuali mengumpulkan qila wa qaalu (omong kosong saja) [1]

Yang lainnya berkata : Saya telah menyelami lautan yang dalam, meninggalkan kaum muslimin dan ilmu mereka dan telah menyelami apa yang mereka larang kepada saya dan sekarang, jika Rabb saya tidak memberikan rahmatNya kepada saya maka celakalah fulan dan inilah saya ingin mati diatas aqidah orang yang buta huruf.[2]

Sebagian yang lainnya berkata : Orang yang paling banyak keraguannya ketika mati adalah ahlil kalam.

Kemudian jika telah terjadi pada mereka perkara tidak ada pada mereka khabar dari hakikat mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mendapatkan darinya sesuatu dan tidak pula atsar, bagaimana mereka orang-orang rendah yang terhalang lagi bingung dan nekat lebih mengenal Allah dan ayat-ayatNya dari Assabiqunal Awalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para pewaris para Nabi, pengganti para Rasul, Ulama petunjuk dan lentera penerang kegelapan yang Al-Qur’an mengangkat mereka dan mereka mengangkat Al-Qur’an dan Al-Kitab telah berbicara tentang mereka dan mereka berbicara dengan Al-Qur’an, merekalah orang-orang yang dianugrahi Allah ilmu dan hikmah yang membuat mereka menonjol dari para pengikut para Nabi yang lainnya dan mereka telah mengatahui hakikat ilmu pengetahuan dan rahasianya, seandainya dikumpulkan hikmah selain mereka dan dibandingkan dengan hikmah mereka niscaya malu orang yang ingin membandingkan tersebut, kemudian bagaimana sebaik-baik generasi umat ini lebih sedikit ilmu dan hikmahnya -apalagi tentang mengenal Allah, hukum nama-nama dan ayat-ayatNya- dari mereka orang-orang kecil dibandingkan para sahabat atau pengekor ahli filsafat dan pengikut (filsafat) India dan Yunani lebih mengenal Allah dari pewaris para Nabi dan ahlil Qur’an dan Iman.

Imam Rabbaniy Muhammad Ali Asy-Sayukaniy dalam At-Tuhaf Fi Madzaahibis Salaf hal.41-44 berkata : Akan tetapi mereka menyatakan bahwa jalan kholaf lebih ilmiyah sedangkan hasil akhir yang didapatkan dari selogan untuk jalan kholaf ini adalah keinginan para akhli tahqiq dan cendikiawan mereka di akhir penelitiannya adalah berada diatas agama orang-orang awam dan mereka berkata : Selamat bagi orang-orang awam.

Renungkanlah slogan ini yang hasil akhirnya hanya mengucapkan selamat atas apa yang didapati orang-orang bodoh sedikit (jahil basiith) dan berangan-angan termasuk dari kalangan mereka dan beragama dengan agama mereka serta berjalan di atas jalan mereka, karena hal ini merupakan suara panggilan yang jelas dan penunjukkan yang sangat gamblang bahwa kebodohan itu jauh lebih baik dari slogan yang mereka tuntut ini, maka apa kamu kira tentang satu ilmu yang pemiliknya mengakui sendiri bahwa kebodohan lebih baik darinya dan mendambakan ketika sampai pada puncak ketinggiannya agar dia termasuk orang yang tidak mengetahui dan tidak mengenalnya sama sekali.

Disini ada pelajaran bagi orang yang dapat mengambil pelajaran dan ayat yang jelas bagi orang yang meneliti, maka alangkah baiknya jika mereka beramal dalam keadaan tidak mengenal ilmu pengetahuan (ilmu kalam) yang mereka geluti sejak awal dan mereka selamat dari mengikutinya lalu melepaskan diri mereka dari kelelahannya serta berkata seperti perkataan penyair.

Saya menyelami satu permasalahan sampai akhirnya

Yang terkahir kemabali lagi ke permulaannya

Dan mereka beruntung lolos dari dambaan (pakar kalam) dan selamat dari pengucapan selamat kepada orang-orang awam tersebut, karena seorang yang berakal tidak akan mendambakan martabat yang sama dengan martabatnya atau lebih rendah dan tidak pula mengucapkan selamat kepada orang yang lebih rendah atau semisalnya dan hal itu tidak dilakukannya kecuali kepada orang yang martabatnya (tingkatannya) dan kedudukannya lebih tinggi darinya.

Sungguh aneh ada ilmu yang kebodohan kecil (jahlul basiith) itu lebih tinggi martabat dan kedudukannya daripada dia. Dan apakah ada orang mendengar keanehan seperti ini atau menukil hal yang semisal atau serupa dengannya .?!

Jika keadaan kelompok yang telah kami jelaskan kepadamu adalah kelompok yang paling sedikit takalluf dan taklidnya maka apa yang kira dengan yang lainnya dari kelompok-kelompok yang telah tampak rusak inti ajarannya dan jelas kebatilan sumber dan referensinya seperti kelompok-kelompok yang ingin dengan syiar-syiar yang mereka tampakkan kerusakan Islam dan kaum muslimin dan berusaha membuat keraguan pada mereka dengan melontarkan syubhat-syubhat dan mengembangkan perkara-perkara yang mengantar kepada pelecehan agama dan tafsir umat Islam dari agamanya. Dan dari sini tahulah kamu bahwa :

Sebaik-baik perkara adalah perkara yang telah lalu diatas petunjuk. Dan sejelek-jelek perkara adalah kebid’ahan yang diada-adakan.

[4]. Slogan ini adalah kebodohan berlifat (jahlul murakab) dimana orang kholaf tidak mengetahui madzhab salaf dan mereka tidak mengetahui kalau mereka itu bodoh lalu mereka menyangka berada diatas kebenaran padahal mereka tidak demikian.

Al-Alaamah As-Safaariniy berkata dalam Lawami’il Anwaar Al-Bahiyah 1/25 : Termasuk hal yang mustahil orang-orang belakangan (khalaf) lebih berilmu dari para salaf sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang yang tidak memiliki penelitian dari -orang yang tidak menghargai salaf dan tidak pula mengenal Allah dan Rasulullah dan tidak juga kaum mukminin dengan sebenarnya yang wajib mereka ketahui darinya bahwa jalan prinsip/manhaj salaf lebih selamat dan jalan khalaf lebih berilmu (ilmiyah) dan lebih bijaksana. Mereka hanyalah mendasarkan pernyataan itu diatas prasangka bahwa manhaj salaf (thariqatus salaf) hanya sekedar iman kepada lafadz-lafadz Al-Qur’an dan Hadits tanpa pemahaman, dan itu sama dengan kedudukan orang-orang buta huruf (umiyin) sedangkan manhaj khalaf (thariqatul khalaf) adalah menampakkan makna-makna nash yang dipalingkan dari hakikatnya dengan beraneka ragam majaz dan bahasa-bahasa yang sulit dipahami, prasangka rusak inilah yang mengakibatkan munculnya slogan tersebut yang kandungannya meninggalkan Islam.

Mereka telah berdusta dan berbohong terhadap manhaj Salaf dan tersesat dengan membenarkan jalan khalaf sehingga mereka menggabung dua kebatilan kebodohan terhadap jalan Salaf dan kedustaan kepadanya dan kebodohan dan kesesatannya dengan membenarkan jalan selain mereka.

Hal ini dijelaskan oleh :

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1]. Bait-bait syiir ini karya Ibnul Khotib yang dikenal dengan Fakhrurroziy yang telah diriwayatkan oleh Asy-Sathibiy dalam Al-Ifaadaat wal Insyaadat hal.84-85 dengan sanadnya, dan ini juga ada dalam Nafhuth Thayib karya Al-Maqriziy 5/232 dan Al-Ihaathoh Fi Akhbaari Ghornathohg karya Lisanuddin bin Al-khothib 2/222 dengan sanad yang lainnya.
[2]. Kata-kata ini disampaikan Ibnul Juwainiy sebagaimana dalam Al-Muntadzom 9/19 Siyar A’lam nubalaa 18/471, Thobaqaatusy Syafiiyah 3/260 dan Syadzaraatudz Dzhahab 3/361 *(Mungkin maksudnya adalah orang awam yang masih berada dalam fithroh atau Rasulullah yang tidak dapat membaca dan menulis, wallahu a’lam (penterjemah))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s