Arsip

KATA PENGANTAR BUKU I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

MUQODDIMAH
Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah hamba dan utusan Allah Azza wa Jalla

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam”[Ali-Imran: 102]

“Artinya: Wahai manusia bertaqwalah kamu kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”[An-Nisaa : 1]
Baca lebih lanjut

Definisi I’tikaaf Dan Disyariatkannya I’tikaaf

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

I’tikaaf berasal dari kata.

‘akafa – ya’kufu – ‘ukuufan

Kemudian disebut dengan i’tikaaf.

I’takafa’ ya’takifu i’tikaafan

I’tikaaf menurut bahasa ialah: “Menetapi sesuatu dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan”

Allah berfirman:

“Artinya: Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? [Al-Anbiyaa : 52]

I’tikaaf berarti: “Tekun dalam melakukan sesuatu. Karena itu, orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah disana, disebut mu’takif atau ‘aakif”.[1]

Sedangkan arti i’tikaaf menurut istilah syara’ ialah: “Seseorang tinggal/menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan sifat/ciri tertentu”
Baca lebih lanjut

HIKMAH I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: Kebaikan hati dan kelurusannya dalam menempuh jalan Allah tergantung pada totalitasnya berbuat karena Allah, dan kebulatannya secara total hanya tertuju kepada Allah Azza wa Jalla. Ketercerai-beraian hati tidak bisa disatukan kecuali oleh langkah menuju Allah Azza wa Jalla. Berlebih-lebihan dalam makan, minum, pergaulan dengan manusia, pembicaraan yang banyak dan kelebihan tidur, hanya menambah ketercerai-beraian hati serta terserak di setiap tempat, memutusnya dari jalan menuju Allah, atau melemahkan, merintangi, atau menghentikannya dari hubungan kepada Allah.
Baca lebih lanjut

HUKUM I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hukum i’tikaaf ada dua macam, yaitu:

[a]. Sunnat.
[b]. Wajib.

I’tikaaf sunnat ialah yang dilakukan oleh seseorang dengan sukarela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala daripada-Nya serta mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sepanjang tahun.
Baca lebih lanjut

Waktu I’tikaaf Dan Syarat-Syarat I’tikaaf

WAKTU I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

I’tikaaf yang wajib, dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan dan diiqrarkan seseorang, maka jika ia bernadzar akan beri’tikaaf satu hari atau lebih, hendaklah ia penuhi seperti yang dinadzarkan itu.

Adapun i’tikaaf yang sunnat, tidaklah terbatas waktunya.

Imam asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ahli fiqh berpendapat bahwa i’tikaaf yang sunnat tidak ada batasnya.

[Lihat Bidayatul Mujtahid I/229.]

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Boleh seseorang beri’tikaaf siang saja atau malam saja. Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafi’i dan Abu Sulaiman”.

[Baca al-Muhalla V/179-180, masalah no. 624.]

SYARAT-SYARAT I’TIKAAF

Syarat-syarat bagi orang yang i’tikaaf ialah:

[a]. Seorang Muslim.
[b]. Mumayyiz.
[c]. Suci dari janabat, suci dari haidh dan suci dari nifas.

Apabila i’tikaaf dilakukan di luar bulan Ramadhan, maka:

[1]. Menurut Ibnul Qayyim: “Puasa sebagai syarat sahnya i’tikaaf dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama Salaf”. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

[Lihat Zaadul Ma’ad, II/88]

[2]. Menurut Imam asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm, bahwa puasa bukan syarat sahnya i’tikaaf. Jika seorang yang beri’tikaaf mau puasa, maka ia puasa. Jika ia tidak mau, tidak apa-apa.

[Baca: Al-Muhalla V/181, masalah no. 625]

[3]. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang afdhal (utama) i’tikaaf dengan berpuasa dan bila ia i’tikaaf dengan tidak berpuasa juga boleh”.

[Lihat al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/484]

Seandainya ada orang sakit i’tikaaf di masjid, maka i’tikaafnya sah.

Imam Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat bahwa orang yang i’tikaaf harus berpuasa. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu anha:

“Artinya : Barangsiapa yang i’tikaaf hendaklah ia berpuasa”.

[Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 8037.]

Aisyah Radhiyallahu anha juga berkata, “Sunnah bagi orang yang i’tikaaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak bercampur dengan istrinya dan tidak bercumbu rayu, tidak keluar dari masjid kecuali ada sesuatu yang mesti dia keluar, tidak ada i’tikaaf kecuali di masjid jami”.

[HR. Abu Dawud no. 2473 dan al-Baihaqi IV/315-316, lihat Shahih Sunan Abi Dawud VII/235-236 no. 2135]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

RUKUN-RUKUN I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Rukun-rukun niat adalah

[1]. Niat, karena tidak sah satu amalan me-lainkan dengan niat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. [Al-Bayyinah: 5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya”.
Baca lebih lanjut

PENDAPAT FUQAHA’ MENGENAI MASJID YANG SAH DIPAKAI UNTUK I’TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Para fuqaha’ berbeda pendapat mengenai masjid yang sah dipakai untuk i’tikaaf, dalam hal ini ada beberapa pendapat, yaitu:

[1] . Sebagian ulama berpendapat bahwasanya i’tikaaf itu hanya dilakukan di tiga masjid, yaitu; Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsha. Ini adalah pendapat Sa’id bin al-Musayyab.

Imam an-Nawawi berkata, “Aku kira riwayat yang dinukil bahwa beliau berpendapat demikian tidak sah”

[Al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab VI/483]

[2]. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Tsur berpendapat bahwa i’tikaaf itu sah dilakukan di setiap masjid yang dilaksanakan shalat lima waktu dan didirikan jama’ah.
Baca lebih lanjut