TATKALA MANUSIA DIPANGGIL BERSAMA IMAMNYA (Tafsir Surat Al Isra’ : 71-72)

Oleh
Ustadz Ashim Bin Musthafa

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“(Ingatlah) suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” [al-Isrâ`/17:71-72]

PENJELASAN AYAT

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya

Pada hari Kiamat manusia akan dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah al-Hakîm akan meminta pertanggungjawaban dari setiap mukallaf berkaitan dengan apa yang telah dikerjakan di dunia. Mereka dipanggil bersama dengan imam mereka pada hari penghisaban amal para hamba.

Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, berdasarkan ayat di atas setiap umat akan dipanggil bersama dengan imam dan pemberi petunjuk mereka, yaitu para rasul dan penerus-penerusnya. Kemudian setiap umat maju dengan dihadiri oleh rasul yang pernah menyerunya. Amalan mereka kemudian dicocokkan dengan kitab yang pernah diserukan oleh rasul, apakah sesuai atau (justru) bertentangan?[1]

Penafsiran di atas merujuk ke sejumlah keterangan dari beberapa ulama tafsir dari kalangan generasi salaful-ummah telah dikutip para penulis kitab-kitab tafsir. Imam ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Mujâhid rahimahullah, bahwa makna “imam” ialah nabi mereka [2]. Dengan redaksi lain Qatadah rahimahullah mengartikannya dengan para nabi mereka. Sehingga pengertiannya, para umat akan datang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama para nabi mereka.

Pendapat ini –seperti yang dipaparkan oleh asy-Syinqîthi rahimahullah [3] – sesuai dengan oleh firman Allah Ta’ala:

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” [an-Nisâ`/4:41].

Pendapat lain berkaitan dengan pengertian kata “imaam”, yaitu diriwayatkan oleh Âdam bin Abi Iyâs rahimahullah dan ath-Thabari rahimahullah dengan sanad yang shahîh dari Mujâhid rahimahullah, menyebutnya “kitab mereka”. Sedangkan ‘Abdur-Razzâq meriwayatkan dengan sanad yang shahîh dari Ma’mar dari al-Hasan, mengatakan, maknanya “kitab mereka yang memuat amalan-amalan mereka”.[4]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu sendiri mengatakan, bahwa yang dimaksud “al-imâm”, yaitu amalan yang dikerjakan dan didiktekan untuk kemudian dituliskan. Maka, barang siapa dibangkitkan dalam keadaan bertakwa kepada Allah, maka Dia akan meletakkan kitabnya di tangan kanannya. Ia akan membaca dan bersuka-cita, tidak teraniaya sedikit pun.[5]

Keterangan-keterangan ini juga dikuatkan oleh beberapa ayat dalam Al-Qur`an, sebagaimana telah dinyatakan oleh Syaikh asy-Syinqiithi rahimahullah dalam Adhwâ`ul-Bayân.[6]

Adapun yang rajih, menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah ialah pendapat yang terakhir. Beliau memberikan penafsiran ayat ini dengan ayat padanannya di surat lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)” [Yâsîn/36:12].

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun”. [al-Kahfi/18:49].

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً ۚ كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَىٰ إِلَىٰ كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
هَٰذَا كِتَابُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنسِخُ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”. [al-Jâtsiyah/45:28-29].

Selain itu, menurut Imam Ibnu Katsiir rahimahullah, ayat di atas (kata imâm) sebenarnya telah mengarahkan kepada pengertian kitab amalan. Pasalnya, dalam ayat tersebut diceritakan bahwasanya orang-orang yang menerima kitab dengan tangan kanan, mereka lantas membacanya, tidak ada rasa khawatir maupun takut terhadap isi yang tertulis pada kitab mereka. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: (Mereka) membacanya -seperti diungkapkan Imam Ibnu Katsir rahimahullah – lantaran perasaan suka cita dengan catatan dalam kitabnya, yaitu berupa amal shalih. Seperti disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku”. [al-Hâqqah/69:19-26] [7]

Penafsiran ini tidak bertentangan dengan penafsiran ulama yang mengatakan bahwa maksudnya adalah nabi akan didatangkan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjatuhkan keputusan bagi umatnya. Nabi tersebut mesti akan menjadi saksi atas amal perbuatan umatnya. Seperti kandungan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan”. [az-Zumar/39:69].

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. [an-Nisâ`/4: 41].[8]

Setelah itu, terbagilah manusia menjadi dua kelompok. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ

“[dan barang siapa yang diberikan Kitab amalannya di tangan kanannya]“, karena sebelumnya mereka mengikuti imamnya yang menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus. Dan imam ini mengambil petunjuk dari Kitabullah. Oleh karena itu, kebaikannya menjadi banyak dan keburukannya pun menyusut.[9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“[maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikit pun]“; bacaan yang menggembirakan, yakni mereka membacanya dengan riang gembira dan tidak terzhalimi sedikit pun dari setiap kebaikan yang telah mereka lakukan.[10]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

[Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)].

Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas orang-orang yang “membutakan” diri terhadap ajaran-ajaran-Nya, dengan balasan yang sama. Ketika mereka tidak mengacuhkan syariat dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kondisi mereka di akhirat kelak dibuat buta, bahkan lebih buruk dari sebelumnya, dan dalam seburuk-buruk keadaan. Begitulah, al-jazâ` min jinsil-’amal (balasan itu serupa dengan perbuatan sebelumnya).

Jadi, buta dalam ayat di atas ialah buta mata hatinya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah [11] , yang dimaksud dengan buta di sini ialah buta hati, bukan buta mata penglihatan. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“(Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. -al-Hajj/22 ayat 46- , Pasalnya seseorang mengalami buta mata inderanya, namun mata hatinya maka hal ini tidak seberapa berdampak buruk. Meski buta pandangan matanya, ia masih bisa mengingat-ingat sehingga setiap peringatan (pesan) akan membekaskan manfaat baginya. karena mata hatinya masih berfungsi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” ['Abasa/80:1-4].

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, barang siapa di dunia ini buta terhadap hujjah-hujjah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai keesaan-Nya dalam penciptaan dan pengaturan dunia serta pemeliharaan dunia seisinya, maka tentang urusan akhirat yang belum pernah ia lihat dan saksikan dengan mata kepala, dan hal-hal yang terjadi pada masa itu, niscaya ia akan lebih buta dan tersesat jalan.[12]

Begitu juga barangsiapa ketika di dunia ini buta dari kebenaran, maka ia tidak akan menerima dan tidak tunduk kepadanya; tetapi sebaliknya ia justru akan mengikuti kesesatan. Maka di akhirat nanti, niscaya ia akan lebih buta pula, tidak mengetahui jalan menuju syurga sebagaimana tatkala di dunia ia tidak menapakinya. Dia lebih tersesat dari jalan yang benar daripada di dunia. Semoga Allah melindungi kita darinya [13]. Dia tidak bisa melihat jalan keselamatan, (hingga) tak berdaya untuk melewatinya, sampai akhirnya akan terjerumus ke neraka Jahannam. [14]

Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah menyimpulkan, bahwasanya dalam ayat ini terdapat dalil jika setiap umat akan diseru kepada agama dan kitabnya, apakah diamalkan ataukah tidak? Mereka tidak akan dituntut dengan syariat nabi lain yang tidak diperintahkan untuk mengikutinya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab seseorang kecuali setelah tegak hujjah atasnya.

Dalam lanjutan keterangannya, beliau menambahkan, bagi orang-orang yang suka berbuat kebaikan, kitab mereka akan diberikan dengan tangan kanannya. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang suka berbuat kejelekan, akan mendapatkan kebalikannya. Mereka tidak mampu membaca kitab mereka, disebabkan dahsyatnya kegelisahan dan ketakutan yang mereka rasakan.[15]

PELAJARAN DARI DUA AYAT DI ATAS 
1. Penetapan datangnya hari Akhir.
2. Keadilan Allah di akhirat dengan menegakkan hujjah terhadap hamba-Nya, tanpa ada unsur kezhaliman sedikit pun.
3. Kebutaan terhadap kebenaran dan bukti-buktinya di dunia berimplikasi pada kebutaaan di akhirat dan menjadi faktor yang menjerumus manusia ke dalam Jahannam.
4. Mengikuti pemahaman generasi Salaf merupakan jalan yang paling selamat, penuh hikmah dan berdasarkan ilmu.

Maraji`:
1. Al-Qur`ân dan Terjemahannya, Cetakan Mujamma’ Malik Fahd Madinah.
2. Adhwâ`ul-Bayân fi Îdhâhil-Qur`ân bil-Qur`ân, Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Mesir, 1415 H – 1995 M.
3. Ahkâmil-Qur`ân, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdullah (Ibnul-’Arabi), Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-’Arabi, Cet. I, Th. 1421 H – 2000 M.
4. Aisarut-Tafâsîr fi Kalâmil-‘Aliyyil-Kabîr, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulum wal- Hikam, Cet. VI, Th. 1423 H – 2003 M.
5. Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-’Arabi, Cet. IV, Th. 1422 H – 2001 M.
6. Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jariîr ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cet. I, Th. 1423 H – 2002 M.
7. Ma’âlimut-Tanzîl, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi, Tahqîq dan Takhrîj: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsmân Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaimân Muslim al-Kharsy Dâr Thaibah, Th. 1411 H.
8. Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, al-Hâfizh Abul-Fidâ Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Tahqîq: Sâmi bin Muhammad as-Salâmah, Dar Thaibah, Cet. I, Th. 1422 H – 2002 M.
9. Taisîrul-Karîmir-Rahmân fi Tafsîri Kalâmin Mannân, ‘Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di, Tahqîq: ‘Abdur-Rahmân al-Luwaihiq, Muassasah Risalah.
10. Taqdîsul Asykhâshi fil-Fikrish-Shûfi, Dr. Muhammad Ahmad Luh, Dar Ibnil-Qayyim, Cet. I, Th. 1422 H – 2002 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. At-Taisîr, 493.
[2]. At-Tafsîrush-Shahîh, 3/273.
[3]. Adhwâ`ul-Bayân, 3/560-561
[4]. At-Tafsîrush-Shahîh, 3/274.
[5]. Jâmi’ul-Bayân, 15/156-157
[6]. Adhwâ`ul-Bayân, 3/560
[7]. Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, 5/99. Lihat Mâ’limut-Tanzîl, 5/109.
[8]. Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, 5/99.
[9]. At-Taisîr, 494.
[10]. At-Taisîr, 494.
[11]. Adhwâ`ul-Bayân, 3/562
[12]. Jâmi’ul-Bayân, 15/159.
[13]. Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, 5/100.
[14]. Aisarut-Tafâsir, 1/688.
[15]. At-Taisîr, 494.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s